oleh : Ida Pandita Nabe Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi

Banyak kalangan lain di luar umat Hindu melihat keunikan tersendiri
bagi umat Hindu Nusantara dalam merayakan Tahun Barunya. Umat lain di hari Tahun Baru-nya merayakan dengan kemeriahan, pesta makan – minum, pakaian baru, dan sebagainya. Umat Hindu, justru di Tahun Baru Saka yang jatuh pada “Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa” menurut sistim kalender Hindu Nusantara, merayakannya dengan sepi yang kemudian bernama “Nyepi” artinya membuat suasana sepi, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati gni), tanpa melakukan perjalanan keluar rumah (amati lelungaan) dan tanpa hiburan (amati lelanguan) yang dikenal dengan istilah “Catur berata penyepian”.

Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk menyimpulkan serta menilai Trikaya pribadi-pribadi dimasa lampau dan merencanakan Trikaya Parisudha dimasa depan. Di hari itu pula umat mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendakian rohani yang telah dicapainya, dan sudahkah masing-masing dari kita mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Dengan amati karya, kita mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tapa, berata, yoga, dan samadhi; dalam suasana amati gni, pikiran akan lebih tercurah pada telusuran kebathinan yang tinggi; pembatasan gerak bepergian keluar rumah berupa amati lelungaan akan mengurung diri sendiri di suatu tempat tertentu untuk melakukan tapa, berata, yoga, samadhi. Tempat itu bisa dirumah, di Pura atau di tempat suci lainnya. Tentu saja dalam prosesi itu kita wajib menghindarkan diri dari segala bentuk hiburan yang menyenangkan yang dinikmati melalui panca indria. Kemampuan mengendalikan Panca Indria adalah dasar utama dalam mengendalikan Kayika, Wacika dan Manacika sehingga jika sudah terbiasa maka akan memudahkan pelaksanaan Tapa Yadnya. Walaupun tidak dengan tegas dinyatakan, pada Hari Nyepi seharusnya kita melakukan Upawasa atau berpuasa menurut kemampuan masing-masing. Jenis-jenis puasa antara lain : tidak makan dan minum selama 24 jam, atau siang hari saja, atau bentuk puasa yang ringan yaitu hanya memakan nasi putih dengan air kelapa gading yang muda.

Setelah Nyepi, diharapkan kita sudah mempunyai nilai tertentu dalam evaluasi kiprah masa lalu dan rencana bentuk kehidupan selanjutnya yang mengacu pada menutup kekurangan-kekurangan nilai dan meningkatkan kwalitas beragama. Demikianlah tahun demi tahun berlalu sehingga semakin lama kita umat Hindu akan semakin mengerti pada hakekat kehidupan di dunia, yang pada gilirannya membentuk pribadi yang dharma, dan menjauhkan hal-hal yang bersifat adharma. Hari Raya Nyepi dan hari-hari Raya umat Hindu lainnya merupakan tonggak-tonggak peringatan penyadaran dharma. Oleh karena itu kegiatan dalam menyambut datangnya hari-hari raya itu semestinya tidak pada segi hura-hura dan kemeriahannya, tetapi lebih banyak pada segi tattwa atau falsafahnya. Seandainya mayoritas umat Hindu Nusantara menyadari hal ini, pastilah masyarakat yang Satyam, Siwam, Sundaram akan dapat tercapai dengan mudah.

Kelemahan tradisi beragama umat Hindu khususnya yang tinggal di Bali, adalah terlalu banyak berkutat pada segi-segi Ritual (Upacara) sehingga segi-segi Tattwa dan Susila kurang diperhatikan. Tidak sedikit dari mereka merasa sudah melaksanakan ajaran Agama hanya dengan melaksanakan upacara-upacara Panca Yadnya saja. Salah satu segi Tattwa yang kurang diperhatikan misalnya mewujudkan Trihitakarana. Perkataan ini sering menjadi selogan yang populer, diucapkan oleh berbagai tokoh dengan gempita tanpa menghayati makna dan aplikasinya yang riil di kehidupan sehari-hari. Trihitakarana, tiga hal yang mewujudkan kebaikan, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Hyang Widhi (Pariangan), keharmonisan hubungan manusia sesama manusia (Pawongan) dan keharmonisan hubungan manusia dengan alam (Palemahan). Trihitakarana bertitik sentral pada manusia, dengan kata lain Trihitakarana bisa terwujud jika manusia mempunyai tekad yang kuat melaksana-kannya. Tekad yang kuat harus disertai dengan pengertian yang mendalam dan kebersamaan sesama umat manusia. Trihitakarana tidak bisa diwujudkan hanya oleh seorang diri atau sekelompok orang saja. Itu harus dilakukan bersama-sama oleh semua manusia, bahkan manusia beragama apapun.
Manusia yang pendakian spiritualnya cukup akan mencintai Tuhan (Hyang Widhi). Cinta kepada sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas disebut “Bhakti”. Ruang lingkup ini misalnya : Bhakti kepada Tuhan, negara, bangsa, rakyat, dll. Tinjuan khusus tentang bhakti kepada Hyang Widhi, wujudnya adalah kasih sayang kepada semua ciptaan-Nya yaitu mahluk hidup : manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan; demikian pula kepada ciptaan-Nya yang lain misalnya alam semesta. Seseorang yang mengaku sebagai “Bhakta” (orang yang berbhakti) tidaklah tepat jika ia menunjukkan bhaktinya itu kepada Hyang Widhi hanya dalam bentuk berbagai ritual saja. Ia juga harus mewujudkan cinta dan kasih sayang kepada semua mahluk, khususnya kepada sesama manusia. Rasa kasih sayang kepada sesama manusia hendaknya benar-benar datang dari hati nurani yang bersih dan tulus tanpa keinginan mendapat balas jasa atau imbalan dalam bentuk apapun. Filsafat Tattwamasi merupakan panduan yang bagus kearah ini.

Masyarakat yang individu-individunya telah mampu melaksanakan ajaran Agama dengan baik akan mewujudkan keadaan yang disebut sebagai Satyam, Siwam, Sundaram, yakni masyarakat yang saling menyayangi sesamanya, kebersamaan yang harmonis dan dinamis, berkeimanan yang kuat dan sejahtera lahir-bathin. Manusia dalam upayanya mencapai kehidupan satyam, siwam, sundaram tidaklah dapat berdiri sendiri-sendiri. Ia memerlukan berbagai hubungan yang harmonis dengan manusia lain, atau jelasnya, manusia membutuhkan kelompok tertentu yang sehaluan dalam pemahaman keimanan, kepentingan politik, kepentingan ekonomi, kepentingan sosial, dan kepentingan budaya. Prinsip-prinsip jalinan hubungan yang harmonis itu sebagaimana bunyi slogan : “Sagilik-saguluk salunglung sabayantaka, paras-paros sampranaya, saling asah, saling asih, saling asuh” Artinya : bersatu-padu menyusun kekuatan menghadapi ancaman/bahaya, memutuskan sesuatu secara musyawarah mufakat, saling mengingatkan, saling menyayangi dan saling membantu. Slogan ini bersifat dinamis, dapat digunakan baik dalam lingkungan kecil seperti rumah tangga, maupun dalam lingkungan yang lebih besar seperti Paguyuban, Banjar, dan Desa, bahkan dalam lingkungan Nusantara dan Internasional. Untuk lingkungan yang lebih luas seperti Nusantara dan Internasional kepentingan yang disatukan biasanya menyangkut ideologi misalnya bidang keimanan/ Agama dan Politik. Azas-azas kebersamaan sebagai umat Hindu dapat dikembangkan seluas-luasnya karena akan bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan. Kebersamaan itu pula dapat sebagai benteng yang melindungi, mengayomi umat sedharma dari ancaman-ancaman pihak lain dalam bentuk proselitasi (mempengaruhi orang yang sudah memeluk Agama tertentu beralih ke Agama lain). Selain itu azas kebersamaan sangat bermanfaat bagi umat sedharma untuk bergotong royong menegakkan dharma dan dalam pendakian spiritual individu, misalnya dalam memerangi Sadripu (enam jenis musuh manusia yang ada di diri masing-masing) yaitu : Kama (nafsu yang tak terkendali), Lobha (rakus), Kroda (kemarahan), Mada (kemabukan), Moha (angkuh) dan Matsarya (cemburu, dengki dan iri hati). Slogan “Sagilik-saguluk sabayantaka” hendaknya tidak dipandang secara sempit sebagai menghadapi musuh ekstern, tetapi lebih ditujukan kepada memerangi Sadripu ini. Mereka yang berhasil mengendalikan Sadripu disebut orang yang “Dama” artinya bijaksana. Kebijaksanaan adalah hal yang penting dalam menempuh kehidupan, karena kebijaksanaan dalam arti luas hakekatnya adalah kemampuan memilah dan menyadari Dharma dan Adharma.

Kebersamaan dalam bentuk paguyuban berguna sebagai wadah demokrasi karena konsep “Paras-paros sampranaya” dijalankan. Ini akan membentuk tatanan kehidupan yang moderat dimana terjadi brainsforming dalam memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa perjuangan dalam bentuk apapun hanya akan berhasil jika dilakukan dengan kesadaran kebersamaan yang hakiki diantara kelompok pejuang. Demikian pula hal yang patut dilakukan oleh umat Hindu dewasa ini, jalinan kebersamaan hendaknya makin diperluas mencapai tahap internasional agar dapat memberikan manfaat yang tinggi bagi kemajuan umat Hindu.

Manusia adalah makhluk utama, makhluk yang mampu menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, dengan sarana subha karma, berbuat baik dan bekerja keras. Dengan cara demikian upaya pencapaian Jagadhita, kesejahteraan hidup di dunia ini, dan Moksaartham, kebahagiaan surgawi, semakin menjadi kenyataan.