tajen_11JUDI dilarang dalam agama Hindu. Kitab suci Manawa Dharmasastra Buku IX (Atha Nawano dhyayah) sloka 221, 222, 223, 224, 225, 226, 227 dan 228 dengan jelas menyebutkan adanya larangan itu. Sloka 223 membedakan antara perjudian dengan pertaruhan. Bila objeknya benda-benda tak berjiwa disebut perjudian, sedangkan bila objeknya makhluk hidup disebut pertaruhan. Benda tak berjiwa misalnya uang, mobil, tanah, rumah dan sebagainya. Makhluk hidup misalnya binatang peliharaan, manusia, bahkan istri sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Panca Pandawa dalam epos Bharatayuda ketika Dewi Drupadi dijadikan objek pertaruhan melawan Korawa. (lebih…)

bantenSahananing bebanten pinaka raganta tuwi,
pinaka warna rupaning Ida Bhatara,
pinaka andha buwana.
Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya,
Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.
Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.
(Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti).

Maksudnya:

Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, lambang alam semesta. Bunga-bungaan lambang kesucian dan ketulusan melakukan Yadnya. Reringgitan dan tatuwasan (ukir-ukiran pada Banten) lambang kesungguhan pikiran melakukan Yadnya. Raka-raka (buah dan berbagai jajan perlengkapan banten) lambang para ilmuwan-ilmuwan sorga. (lebih…)

1435279-pura-ulan-danu-1

Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:

 

1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.

 2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.

Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan úiddhadevatà(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.

Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut. (lebih…)

pemangku

1. Ditetapkan berdasarkan keturunan dari Pemangku sebelumnya

2. Melalui pemilihan

3. Dengan cara lekesan (seperti “lotere”)

4. Dengan cara nyanjan atau metuwun

 

PENGGOLONGAN PEMANGKU MENURUT SWADARMANYA

1. Pemangku Pura-Pura : Sad Kahyangan, Kahyangan Tiga

2. Pemangku Pamongmong (pembantu dibidang protokoler)

3. Pemangku Jan Banggul (pembantu dibidang pelayanan warga ketika upacara di Pura)

4. Pemangku Cungkub (di Merajan Gede yang jumlah palinggihnya diatas 10 buah)

5. Pemangku Nilarta (di Pura Kawitan) 6. Pemangku Pinandita (Pemangku pembantu Pandita yang berwenang

ngeloka palasraya dalam batas-batas tertentu atas tuntunan dan panugrahan Pandita)

7. Pemangku Bujangga (di Pura Paibon)

8. Pemangku Balian (mengobati orang sakit)

9. Pemangku Dalang (sebagai Dalang yang mampu Nyapu legger)

10.Pemangku Lancuban (yang bisa kerawuhan/kodal untuk metuwun)

11.Pemangku Tukang (yang paham ajaran Wisma Karma : undagi,sangging,tukang wadah)

12.Pemangku Kortenu (yang bertugas di Prajapati/Ulun Setra)

(lebih…)

lempuyang_luhur

Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis.

Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari “Pura-Pura” delapan penjuru angin di Pulau Bali. (lebih…)

250px-pura_besakih

Pura Besakih, merupakan Pura yang terbesar di Bali. Terletak di kabupaten Karangasem. Dari Pura ini tampak keindahan panorama alam bali, karena Pura ini terletak di kaki Gunung Agung yang merupakan Gunung yang tertinggi di Bali.

Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa di Pura ini, hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya. (lebih…)