<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://pujaantara.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pujaantara.wordpress.com</link>
	<description>:: Mangku Puja Web Blog ::</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Nov 2011 13:34:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pujaantara.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pujaantara.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pujaantara.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Judi dari Pandangan Agama Hindu</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/25/judi-dari-pandangan-agama-hindu/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/25/judi-dari-pandangan-agama-hindu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 13:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[JUDI dilarang dalam agama Hindu. Kitab suci Manawa Dharmasastra Buku IX (Atha Nawano dhyayah) sloka 221, 222, 223, 224, 225, 226, 227 dan 228 dengan jelas menyebutkan adanya larangan itu. Sloka 223 membedakan antara perjudian dengan pertaruhan. Bila objeknya benda-benda tak berjiwa disebut perjudian, sedangkan bila objeknya makhluk hidup disebut pertaruhan. Benda tak berjiwa misalnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=428&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-429" title="tajen_11" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/tajen_11.jpg?w=300&#038;h=224" alt="tajen_11" width="300" height="224" />JUDI dilarang dalam agama Hindu. Kitab suci Manawa Dharmasastra Buku IX (Atha Nawano dhyayah) sloka 221, 222, 223, 224, 225, 226, 227 dan 228 dengan jelas menyebutkan adanya larangan itu. Sloka 223 membedakan antara perjudian dengan pertaruhan. Bila objeknya benda-benda tak berjiwa disebut perjudian, sedangkan bila objeknya makhluk hidup disebut pertaruhan. Benda tak berjiwa misalnya uang, mobil, tanah, rumah dan sebagainya. Makhluk hidup misalnya binatang peliharaan, manusia, bahkan istri sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Panca Pandawa dalam epos Bharatayuda ketika Dewi Drupadi dijadikan objek pertaruhan melawan Korawa.<span id="more-428"></span>Pemerintah berwenang mengawasi agar larangan judi ditaati sebagaimana ditulis dalam Manawa Dharmasastra IX.221: Dyutam samahwayam caiwa, raja ratranniwarayet, rajanta karana wetau dwau, dosau prithiviksitam. Perjudian dan pertaruhan supaya benar-benar dikeluarkan dari wilayah pemerintahannya karena kedua hal itu menyebabkan kehancuran kerajaan dan putra mahkota. Istilah kerajaan dan putra mahkota zaman sekarang dapat ditafsirkan sebagai negara dan generasi penerus, sedangkan istilah pemerintah dapat ditafsirkan sebagai penguasa, mulai klian adat, kepala lingkungan, lurah, camat, bupati, sampai gubernur.</p>
<p>Para penjudi dan peminum minuman keras digolongkan sebagai orang-orang sramana kota (sloka 225) disebut pencuri-pencuri tersamar (sloka 226) yang mengganggu ketenteraman hidup orang baik-baik. Judi menimbulkan pencurian (sloka 222), permusuhan (sloka 227) dan kejahatan (sloka 228). Para penguasa khususnya di Bali diharap memahami benar tentang jenis-jenis judi agar tidak terkecoh dengan dalih pelaksanaan adat dan upacara agama. Ada kegiatan penggalian dana dengan mengadakan tajen, ada kegiatan piodalan di pura dilengkapi dengan tajen, dan kebiasaan maceki pada waktu melek di acara menjelang ngaben, bahkan pada hari-hari raya seperti Galungan, Kuningan, Nyepi, Pagerwesi, dan lain-lain.</p>
<p>Tabuh Rah-Tajen</p>
<p>Tabuh rah tidak sama dengan tajen. Tabuh rah adalah bagian dari upacara agama khususnya dalam upacara pacaruan. Tajen adalah adu ayam bertujuan judi dan pertaruhan. Mengenai tabuh rah, sudah diatur dalam Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu hasil Seminar PHDI tahun 1976 di Denpasar. Sumber sastra tabuh rah adalah Lontar Siwatattwapurana dan Yadnyaprakerti.</p>
<p>Pelaksanaan tabuh rah adalah upakara (banten) diiringi puja mantra yang dilengkapi dengan taburan darah binatang korban antara lain ayam, itik, babi, kerbau, di mana darahnya keluar sesudah di-sambleh atau di perang sata, dilanjutkan dengan mengadu kemiri, telur, kelapa.</p>
<p>Perang sata (adu ayam) dalam tabuh rah hanya dilaksanakan tiga ronde (telung perahatan) di tempat melaksanakan upacara agama. Dapat menggunakan toh (taruhan) tetapi hasil kemenangan taruhan itu seluruhnya diaturkan sebagai dana punia kepada sang Yajamana. Adu ayam yang pelaksanaannya menyimpang dari ketentuan-ketentuan di atas tidak dapat disebut sebagai tabuh rah.</p>
<p>Awidya</p>
<p>Maraknya judi di seluruh pelosok Bali bukan disebabkan umat Hindu di Bali tidak taat beragama, tetapi karena tidak tahu bahwa judi itu dilarang dalam agama. Judi, khususnya tajen, sudah mentradisi di Bali. Dampak negatif dalam hal ini seolah-olah membenarkan tajen sebagai objek wisata. Hal ini antara lain terlihat dari banyaknya lukisan atau patung kayu yang menggambarkan dua ekor ayam sedang bertarung. Atau gambaran seorang tua sedang mengelus-elus ayam kesayangannya. Contoh lain, suatu ketika saya kaget mendengar pernyataan seseorang bahwa ia harus pandai berjudi karena leluhurnya terkenal sebagai penjudi. Jadi jika hormat pada leluhur harusnya meuruti pula hobi leluhurnya. Berjudi juga sering menjadi simbol eksistensi kejantanan. Laki-laki yang tidak bisa berjudi dianggap banci. Judi juga menjadi sarana pergaulan, mempererat tali kekeluargaan dalam satu banjar. Oleh karena itu bila tidak turut berjudi dapat tersisih dari pergaulan, dianggap tidak bisa menyama beraya.</p>
<p>Di zaman dulu sering pula status sosial seseorang diukur dari banyaknya memiliki ayam aduan. Raja-raja Bali khusus menggaji seorang juru kurung untuk merawat ayam aduannya. Ketidaktahuan atau awidya bahwa judi dilarang agama Hindu antara lain karena pengetahuan agama, terutama yang menyangkut tattwa dan susila, kurang disebarkan ke masyarakat.</p>
<p>Tamasik</p>
<p>Motivasi lain berjudi adalah keinginan untuk mendapatkan uang dengan cepat tanpa bekerja. Yang dimaksud dengan bekerja menurut agama Hindu adalah pekerjaan yang berhubungan dengan yadnya sebagaimana ditulis dalam Bhagawadgita Bab III.9: Yajnarthat karmano nyatra, loko yam karmabandhanah, tadartham karma kaunteya, muktasangah samacara: Kecuali pekerjaan yang dilakukan sebagai dan untuk yadnya, dunia ini juga terikat dengan hukum karma. Oleh karenanya Oh Arjuna, lakukanlah pekerjaanmu sebagai yadnya, bebaskan diri dari semua ikatan. Dengan demikian mereka yang ingin mendapat hasil tanpa bekerja tergolong orang tamasik. Walaupun dalam judi ada unsur untung-untungan atau sesuatu yang tidak pasti, tidak menyurutkan keberanian orang-orang tamasik berjudi, malah makin mendorong keinginan mereka berspekulasi dengan harapan hampa mendapat kemenangan. Sadripu</p>
<p>Kalah atau menang dalam berjudi membawa dampak munculnya sadripu (enam musuh) pada diri seseorang. Sadripu adalah kama (nafsu tak terkendali), lobha (serakah), kroda (kemarahan), mada (kemabukan), moha (sombong) dan matsarya (cemburu), dengki, irihati). Penjudi yang menang menguatkan kama, lobha, mada, dan moha, pada dirinya dan yang kalah menguatkan kroda, dan matsarya.</p>
<p>Bhagawadgita Bab III.37:</p>
<p>Kama esa kroda esa,<br />
rajogunasamudbhavah,<br />
mahasano mahapapma,</p>
<p>viddhy enam iha vairinam: Kuatnya keinginan dan kemarahan yang lahir dari nafsu rajaguna menjadikan lobha dan berdosa yang merupakan musuh di dunia.</p>
<p>Oleh karena itu menjadi tugas para sulinggih atau pemimpin-pemimpin umat untuk meningkatkan kualitas beragama, antara lain menyadarkan masyarakat akan dosa berjudi. Memberantas perjudian tidak dapat dengan paksaan atau kekuasaan berdasarkan Undang-undang saja. Tetapi akan lebih berhasil jika disertai dengan dharmawacana-dharmatula, dan penyuluhan-penyuluhan yang intensif. Kebanggaan sebagian masyarakat sebagai penjudi sedikit demi sedikit dikikis sehingga masyarakat menjadi malu berjudi.</p>
<p>Salah satu alasan masyarakat berjudi di zaman dulu adalah karena kurangnya fasilitas hiburan atau rekreasi. Oleh karena itu perkataan lain untuk berjudi adalah makelecan (kelecan artinya hiburan). Untuk menjaga kesehatan rohani masyarakat, salah satu upaya mungkin dapat ditempuh misalnya pemerintah menyediakan fasilitas hiburan atau rekreasi yang sehat, antara lain fasilitas olah raga. Jarang sekali di desa-desa ada lapangan voli, sepak bola, bulu tangkis, meja pingpong, dan lain-lain yang dikelola oleh pemerintah. Jika ada, fasilitas itu dibuat oleh warga setempat, klub-klub atau perusahaan. Masyarakat yang ingin berenang di sungai atau di laut airnya pun sudah tercemar limbah atau sampah. Pemerintah agar berupaya mengalihkan keinginan masyarakat mencari hiburan dari berjudi kepada bentuk hiburan lain yang sehat. Pada hari-hari raya misalnya diadakan pertandingan olah raga antarbanjar, desa. Bentuk olah raga dipilih yang murah meriah misalnya tarik tambang, lomba lari karung, naik pedana (pohon pinang licin yang di puncaknya diisi berbagai hadiah).</p>
<p>Di Buleleng dulu ada tradisi yang sangat baik yaitu pada hari Galungan ada perlombaan magoak-goakan yang sangat meriah dan mengundang gelak tawa kegirangan. Di Klungkung, Gianyar dan Karangasem ada permaiann ayunan jantera yang ramai dkunjungi oleh anak-anak, tua, muda pada hari-hari raya. Bentuk hiburan zaman sekarang yang mahal dan mewah belum tentu membawa kegembiraan dan kesehatan rohani.</p>
<p>Masyarakat penjudi adalah masyarakat yang sakit sebagaimana diuraikan dalam Manawa Dharmasastra IX.221. Pendapat ini disepakati oleh pemerintah dan tokoh-tokoh agama. Ironisnya belum ada upaya-upaya preventif dan represif yang sifatnya mendidik untuk menyembuhkan penyakit rohani ini.</p>
<p>Sebagai usulan, misalnya para penjudi (bebotoh) di tiap desa didata dan secara periodik dikumpulkan kemudian diberikan siraman-siraman rohani yang menekankan bahwa judi itu adalah dosa.</p>
<p>Penulis, sulinggih, tinggal di Geriya Tamansari Lingga Ashrama,<br />
Jl. Pantai Lingga, Singaraja</p>
<p>Source : HDNet</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/428/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/428/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=428&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/25/judi-dari-pandangan-agama-hindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/tajen_11.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">tajen_11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Banten”, Bahasa Agama dalam Bentuk Simbol</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/%e2%80%9cbanten%e2%80%9d-bahasa-agama-dalam-bentuk-simbol/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/%e2%80%9cbanten%e2%80%9d-bahasa-agama-dalam-bentuk-simbol/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 14:24:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebanten]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka andha buwana. Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya, Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari. (Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). Maksudnya: Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, lambang alam semesta. Bunga-bungaan lambang kesucian dan ketulusan melakukan Yadnya. Reringgitan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=419&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-420" title="banten" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/banten.jpg?w=510" alt="banten"   /><em><strong>Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi,</strong><br />
</em><strong><em>pinaka warna rupaning Ida Bhatara,<br />
pinaka andha buwana.<br />
Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya,<br />
Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.<br />
Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.<br />
(Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti). </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maksudnya:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, lambang alam semesta. Bunga-bungaan lambang kesucian dan ketulusan melakukan Yadnya. Reringgitan dan tatuwasan (ukir-ukiran pada Banten) lambang kesungguhan pikiran melakukan Yadnya. Raka-raka (buah dan berbagai jajan perlengkapan banten) lambang para ilmuwan-ilmuwan sorga.<span id="more-419"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SWAMI</strong> Satya Narayana menyatakan setiap upacara agama Hindu (Weda) harus ada lima unsur yang bersinergi membangun kesucian upacara agama Hindu tersebut. Lima unsur tersebut adalah Mantra: doa pujaan yang dijadikan pengantar upacara oleh pandita atau pinandita. Tantra: niat dan hasrat suci yang kuat. Yantra: simbol-simbol yang penuh arti. Yadnya: laksana yang didasarkan pada keikhlasan yang tulus untuk berkorban, dan Yoga tercapainya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, antara manusia dengan sesamanya dan antara manusia dengan alam lingkungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam lima unsur tersebut, Yantra merupakan unsur yang ketiga. Banten adalah salah satu bentuk Yantra. Sebagaimana dinyatakan dalam Lontar Yadnya Parakerti yang dikutip di atas bahwa banten itu memiliki arti yang demikian dalam dan universal. Banten dalam upacara agama Hindu adalah wujudnya sangat lokal. Namun di dalamnya terkandung nilai-nilai yang universal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, banten itu adalah bahasa untuk menjelaskan ajaran agama Hindu dalam bentuk simbol. Misalnya banten menurut Lontar Yadnya Prakerti adalah simbol ekspresi diri manusia. Misalnya banten peras dinyatakan lambang permohonan hidup untuk sukses dengan menguatkan Tri Guna (Peras Ngarania Prasidha Tri Guna Sakti). Ini artinya hidup sukses itu dengan memproporsikan dan memposisikan dengan tepat dinamika Tri Guna (Sattwam Rajas Tamas) sampai mencapai Sakti. Dalam pandangan umum masyarakat tentang pengertian Sakti sangat negatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Sansekerta, kata Sakti itu artinya mampu atau memiliki kemampuan, sedangkan dalam kitab Wrehaspati. 14 menyatakan sbb: Sakti ngarania ikang sarwajnya lawan sarwakarta. Artinya Sakti adalah orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan dan orang yang banyak berbuat baik. Artinya kata Peras saja demikian luhur dan mulia artinya. Demikian juga reringgitan dan tatuwasan dinyatakan sebagai lambang kelanggengan melakukan yadnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Langgeng artinya ketetapan hati untuk melakukan yadnya. Karena dalam melakukan yadnya itu umumnya akan berhadapan dengan berbagai godaan-godaan seperti kehidupan yang lain pada umumnya. Hanya pengertian yadnya inilah umumnya diartikan upacara agama saja. Padahal yadnya ini adalah dapat dilakukan dalam wujud yang lebih nyata dalam melakukan perbuatan mulia dan luhur. Baik dalam rangka memuja Tuhan, mengabdi dengan sesama umat manusia maupun dengan memelihara kesejahtraan alam (Bhuta Hita).</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan buah dan jenis-jenis makanan dijadikan rakan banten itu disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti sebagai lambang Widyadara-Widyadhari. Kata Widya berarti ilmu pengetahuan dan Dhara artinya merangkul. Widyadhara artinya mereka yang mampu menguasai ilmu pengetahuan suci. Ilmu tersebut diwujudkan dalam perbuatan nyata. Ini artinya kalau rakan banten tersebut sebagai lambang Widyadhara-Widyadhari ini artinya buah-buahan dan berbagai jenis jajan itu mengandung makna agar rakan banten itu hasil sendiri dari pengembangan ilmu pengetahuan tersebut. Buah hasil kebun sendiri, jajan hasil kreasi sendiri. Hal itulah yang paling baik untuk dijadikan rakan banten.</p>
<p style="text-align:justify;">Membeli buah dan jajan untuk rakan banten tentunya boleh-boleh saja. Lebih-lebih zaman modern umumnya orang pada sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri sesuai dengan profesi masing-masing. Namun, penggunaan rakan banten itu bermaksud untuk menuntun umat manusia agar mengkreasi ilmu yang dikuasainya untuk diabdikan kepada Tuhan melalui wujud pelayanan kepada sesama ciptaan Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Banten itu bukanlah suguhan untuk makanan Tuhan. Banten itu adalah bahasa agama dalam bentuk simbol yang mona. Mona artinya diam. Banten itu memang diam sama dengan Aksara. Tetapi kalau kita coba ungkap dengan sabar, maka banten itu akan banyak menuturkan kita berbagai ajaran agama Hindu yang sesuai dengan konsep Weda dan kitab-kitab Sastranya. Lewat banten nilai Hindu dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>* I Ketut Gobyah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Source :</em> Balipost</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=419&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/%e2%80%9cbanten%e2%80%9d-bahasa-agama-dalam-bentuk-simbol/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/banten.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">banten</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengelompokan Pura</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pengelompokan-pura/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pengelompokan-pura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 14:15:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Suci]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok pura]]></category>
		<category><![CDATA[sad kahyangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:   1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.  2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur. Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=416&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-417" title="1435279-pura-ulan-danu-1" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/1435279-pura-ulan-danu-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="1435279-pura-ulan-danu-1" width="300" height="225" /></p>
<p><span style="font-size:small;">Dari berbagai jenis pura di Bali dengan pengertian sebagai tempat suci untuk memuja Hyang Widhi/dewa dan bhaþàra, dapat dikelompokkan berdasarkan fungsinya:</span></p>
<p> </p>
<p><span style="font-size:small;">1). Pura yang berfungsi sebagai tcmpat untuk memuja Hyang Widhi, para devatà.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"> 2). Pura yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja bhaþàra yaitu roh suci leluhur.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Selain kelompok pura yang mempunyai fungsi seperti tersebut di atas, bukan tidak mungkin terdapat pula pura yang berfungsi gandayaitu sclain untuk memuja Hyang Widhi/dewa juga untuk memuja bhaþàra. Hal itu di mungkinkan mengingat adanya kepercayaan bahwa sctelah melalui upacara penyucian, roh leluhur tesebut telah mencapai tingkatan <em>úiddhadevatà</em>(telah memasuki alam devatà ) dan disebut bhaþàra.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Fungsi pura tcrscbut dapat diperinci lebih jauh berdasarkan ciri (kekhasan ) yang antara lain dapat diketahui atas dasar adanya kelompok masyarakat ke dalam berbagai jenis ikatan seperti: ikatan sosial, politik, ekonomis, genealogis (garis kelahiran). Ikatan sosial antara lain berdasarkan ikatan wilayah tempat tinggal (teritorial), ikatan pengakuan atas jasa seorang guru suci (Dang Guru), ikatan politik di masa yang silam antara lain berdasarkan kepentingan penguasa dalam usaha menyatukan masyarakat dan wilayah kekuasaannya. Ikatan ekonomis antara lain dibedakan atas dasar kepentingan sistem mata pencaharian hidup seperti bertani, nelayan , berdagang, nelayan dan lain-lainnya. Ikatan geneologis adalah atas dasar garis kelahiran dengan perkembangan lebih lanjut.<span id="more-416"></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Berdasarkan atas ciri-ciri tersebut (Titib, 2003: 96-100), maka terdapat beberapa kelompok pura dan perinciannya lebih lanjut berdasarkan atas karakter atau sifat kekhasannya adalah sebagai berikut.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>1) Pura Umum </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura ini mempunyai ciri umum sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dengan segala manifestasinya (dewa). Pura yang tergolong umum ini dipuja oleh seluruh umat Hindu, sehingga sering disebut Kahyangan Jagat Bali. Pura-pura yang tcrgolong mempunyai ciri-ciri tersebut adalah pura Besakih, pura Batur, pura Caturlokapàla dan pura Sadkahyangan. Pura lainnya yang juga tergolong pura umum adalah pura yang berfungsi sebagai tempat pemujaan untuk memuja kebesaran jasa seorang pandita guru suci atau Dang Guru.</span><span style="font-size:small;">Pura tersebut juga dipuja oleh seluruh umat Hindu, karena pada hakekatnya semua umat Hindu merasa berhutang jasa kepada beliau Dang Guru atas dasar ajaran agama Hindu yang disebut <em>åûiåóa.</em> Pura pura tersebut ini tergolong kedalam karakter yang disebut Dang Kahyangan seperti: pura Rambut Siwi, pura Purancak, pura Pulaki, pura Ponjok Batu, pura Sakenan, pura Úìlayukti, pura Lempuyang Madya dan lain-lainnya. Pura-pura tersebut berkaitan dengan dharmayàtrà yang dilakukan oleh Dang Hyang Nirartha, paúraman Mpu Kuturan dan Mpu Agnijaya karena peranannya sebagai Dang Guru.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Selain pura-pura yang dihubungkan dengan Dang Guru, tergolong pula ke dalam ciri Dang Kahyangan adalah pura-pura yang dihubungkan dengan pura tempat pemujaan dari kerajaan yang pernah ada di Bali (Panitia Pemugaran tempat-tempat bersejarah dan peninggalan purbakala, 1977: 10) seperti pura Sakenan, yang merupakan pura kerajaan Kesiman, pura Taman Ayun yang merupakan pura kerajaan Mengwi. Ada tanda-tanda bahwa masing-masing kerajaan yang pemah ada di Bali, sekurang kurangnya mempunyai satu jenis pura, yaitu: pura Penataran yang terletak di ibu kota kerajaan, pura puncak yang ter!etak di puncak bukit atau pegunungan dan pura Segara yang terletak di tepi pantai laut. Pura-pura kerajaan tersebut rupa-rupanya mewakili tiga jenis tempat pemujaan yaitu: pura gunung, pura pusat kerajaan dan pura laut. Pembagian mandala atas gunung, daratan dan laut sesuai benar dengan pembagian makrokosmos menjadi dunia atas atau uranis, dunia tengah tempat manusia itu hidup dan dunia bawah atau chithonis.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>2) Pura Teritorial </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura ini mempunyai ciri kesatuan wilayah (teritorial) sebagai tempat pemujaan dari anggota masyarakat suatu banjar atau suatu desa yang diikat ikat oleh kesatuan wilayah dari suatu banjar atau desa tersebut. Wilayah banjar sebagai kelompok sub kelompok dari masyarakat desa adat ada yang memiliki pura tersendiri. Ciri khas suatu desa adat pada dasamya memiliki tiga buah pura disebut Kahyangan Tiga, yaitu: pura Desa, pura Puseh, pura Dalem yang merupakan tempat pemujaan bersama. Dengan lain perkataan, bahwa Kahyangan Tiga itulah merupakan unsur mengikat kesatuan desa adat bersangkutan. Nama-nama kahyangan tiga ada juga yang bervariasi pada beberapa desa di Bali, pura Desa sering juga disebut pura Bale Agung. Pura Puseh juga disebut pura Segara, bahkan pura Puseh desa Besakih disebut pura Banua.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura Dalem banyak juga macamnya. Namun pura Dalem yang merupakan unsur Kahyangan Tiga adalah pura Dalem yang memiliki <em>setra </em>(kuburan). Di samping itu banyak juga terdapat pura yang disebut Dalem, tetapi bukan merupakan pura sebagai unsur Kahyangan Tiga di antaranya: pura Dalem Maspahit, pura Dalem Canggu, pura Dalem Gagelang dan sebagainya (Panitia Pemugaran Tempat- tempat bersejarah dan peninggalan Purbakala, 1977,12). Di dekat pura Watukaru terdapat sebuah pura yang bernama pura Dalem yang tidak merepunyai hubungan dengan pura Kahyangan Tiga, melainkan dianggap mempunyai hubungan dengan pura Watukaru. Masih banyak ada pura Dalem yang tidak mempunyai kaitan dengan Kahyangan Tiga seperti pura Dalem Puri mempunyai hubungan dengan pura Besakih. Pura Dalem Jurit mempunyai hubungan dengan pura Luhur Uluwatu.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>3) Pura Fungsional </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura ini mempunyai karakter fungsional, umat panyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan karena mempunyai, profesi yang sama dalam sistem mata pencaharian bidup seperti: bertani, berdagang dan nelayan. Kekaryaan karena bertani, dalam mengolah tanah basah mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Empelan yang sering juga disebut pura Bedugul atau pura Subak. Dalam tingkatan hirarkhis dari pura itu kita mengenal pura Ulun Carik, pura Masceti, pura Ulun Siwi dan pura Ulun Danu. Apabila petani tanah basah mempunyai ikatan pcmujaan seperd tersebut diatas, maka petani tanah kering juga mempunyai ikatan pemujaan yang disebut pura Alas Angker, Alas Harum, Alas Rasmini dan lain sebagainya. Berdagang merupakan salah satu sistim mata pencaharian hidup menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud pura yang disebut pura Melanting. Umumnya pura Melanting didirikan didalam pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>4) Pura Kawitan </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya ikatan <em>wit</em> atau lcluhur berdasarkan garis kelabiran (genealogis). Pura ini sering pula disebut <em>Padharman </em>yang merupakan bentuk perkembangan yang lebib luas dari pura milik warga atau pura klen. Dengan demikian mika pura Kawitan adalah tempat pemujaan roh leluhur yang telah suci dari masing-masing warga atau kelompok kekerabatan. Klen kecil adalah kelompok kerabat yang terdiri dari beberapa keluarga inti maupun keluarga luas yang merasakan diri berasal dari nenek moyang yang sama. Klen ini mcmpunyai tempat pemujaan yang discbut pura Dadya sehingga mereka disebut <em>tunggal Dadya.</em> Keluarga inti disebut juga keluarga batih (nuclear family ) dan keluarga luas terdiri lebih dari satu keluarga inti yang juga disebut keluarga besar (extended family). Suatu keluarga inti terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka yang belum kawin .</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Tempat pemujaan satu keluarga inti disebut <em>sanggah</em> atau <em>marajan</em> yang juga disebut <em>kamulan taksu</em>, sedangkan tempat pemujaan kciuarga luas disebut <em>sanggah gede</em> atau <em>pamarajan agung.</em> Klen besar merupakan kelompok kerabat yang lebih luas dari klen kecil (<em>dadya</em>) dan terdiri dari beberapa kelompok kerabat <em>dadya</em>. Anggota kelompok kerabat tcrsebut mempunyai ikatan tempat pemujaan yang disebut pura <em>paibon</em> atau <em>pura panti.</em> Di beberapa daerah di Bali, tempat pemujaan seperti itu, ada yang menyebut pura <em>Batur </em>(<em>Batur Klen</em>), pura Penataran (<em>Penataran Klen</em>) dan sebagainya. Didalam rontal Úiwàgama, disebutkan bahwa setiap 40 keluarga batih patut membuat pura <em>panti</em>, setiap 20 keluarga batih patut mendirikan pura <em>lbu,</em><em>Påtiwì</em> dan setiap keluarga batih membuat palinggih <em>Kamulan </em>yang kesemuanya itu untuk pemujaan roh leluhur yang telah suci. Tentang pengelompokan pura di Bali ini , dalam Seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu ke X tanggal 28 sampai dengan 30 Mei 1984 ditetapkan pengelompokan pura di Bali sebagai berikut :</span> setiap 10 keluarga batih supaya membuat palinggih</p>
<p><span style="font-size:small;">1). Berdasarkan atas Fungsinya :</span></p>
<p><span style="font-size:small;"> (a).<em> Pura Jagat</em><strong>,</strong> yaitu pura yang berfungsi sebagai tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam segala prabawa-Nya (manifestasi-Nya). </span></p>
<p><span style="font-size:small;">(b)<em>. Pura kawitan</em><strong>,</strong> yaitu pura sebagai tempat suci untuk memuja “Àtmàúiddhadevatà” (roh suci leluhur).</span></p>
<p><span style="font-size:small;">2). Berdasarkan atas Karakterisasi nya </span></p>
<p><span style="font-size:small;">(a).<em> Pura Kahyangan Jagat</em><strong>, </strong>yaitu pura tempat memuja Sang Hyang Widhi dalam aneka <em>prabhawa-</em>Nya misalnya pura Sad Kahyangan dan pura Kahyangan Jagat.</span></p>
<p><span style="font-size:small;"> (b). <em>Pura Kahyangan Desa (teritorial )</em>yaitu pura yang disungsung (dipuja dan dipelihara) oleh desa Pakraman atau desa Adat. </span></p>
<p><span style="font-size:small;">(c).<em> Pura Swagina (pura fungsional)</em>yaitu pura yang penyungsungnya terikat oleh ikatan <em>swagina</em> (kekaryaan) yang mempunyai profesi sama dalam mata pencaharian seperti: pura Subak, Melanting dan sebagainya . </span></p>
<p><span style="font-size:small;">(d).<em> Pura Kawitan,</em>yaitu pura yang penyungsungnya ditcntukan oleb ikatan <em>“wit” </em>atau leluhur berdasarkan garis (vertikal geneologis) seperti: <em>sanggah, pamarajan, ibu, panti, dadya, batur, panataran, padharman</em> dan yang sejenisnya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pengelompokan pura di atas jelas berdasarkan Úraddhà atau Tatwa agama Hindu yang berpokok pangkal konsepsi ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai manifestasi atau <em>prabhawa</em>-Nya dan konsepsi <em>Àtman</em> manunggal dengan <em>Brahman</em> (<em>Àtmàúiddhadevatà</em>) menyebabkan timbulnya pemujaan pada roh suci leluhur, oleh karena itu pura di Bali ada yang disungsung oleh seluruh lapisan masyarakat di samping ada pula yang disungsung oleh keluarga atau klen tertentu saja.</span></p>
<p><a href="http://blackinjpn.multiply.com/photos/hi-res/9/11"><img class="alignmiddleb" src="http://images.blackinjpn.multiply.com/image/8/photos/9/300x300/11/balineseTemple.jpg?et=AWoRJdkAfvfrhuX5ZPllpg&amp;nmid=90713328" border="0" alt="" /></a></p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>Struktur Pura </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: <em>jabapura</em> atau <em>jaba pisan</em> (halaman luar), <em>jaba tengah</em> (halaman tengah) dan <em>jeroan</em> (halaman dalam). Di samping itu ada juga pura yang terdiri dari dua halaman, yaitu: <em>jaba pisan</em> (halaman luar) dan <em>jeroan</em> (halaman dalam) dan ada juga yang terdiri dari tujuh halaman (tingkatan) seperti pura Agung Besakih. Pembagian halaman pura ini, didasarkan atas konsepsi macrocosmos (<em>bhuwana agung</em>), yakni : pembagian pura atas 3 (tiga) bagian (halaman) itu adalah lambang dari “<em>triloka</em>“, yaitu: <em>bhùrloka</em> (bumi), <em>bhuvaáloka</em> (langit) dan <em>svaáloka</em> (sorga). Pembagian pura atas 2 (dua) halaman (tingkat) melambangkan alam atas (<em>urdhaá</em>) dan alam bawah (<em>adhaá</em>), yaitu <em>àkàúa</em> dan <em>påtivì.</em></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Sedang pembagian pura atas 7 bagian (halaman) atau tingkatan melambangkan “<em>saptaloka</em>” yaitu tujuh lapisan/tingkatan alam atas, yang terdiri dari: <em>bhùrloka, bhuvaáloka, svaáloka, mahàoka, janaloka, tapaloka</em> dan <em>satyaloka. </em>Dan pura yang terdiri dari satu halaman adalah simbolis dari “<em>ekabhuvana</em>” , yaitu penunggalan antara alam bawah dengan alam atas. Pembagian halaman pura yang pada umumnya menjadi tiga bagian itu adalah pembagian horizontal sedang pembagian (<em>loka</em>) pada palinggih-palinggih adalah pembagian yang vertikal. Pembagian horizontal itu melambangkan “<em>prakåti</em>” (unsur materi alam semesta) sedangkan pembagian yang vertikal adalah simbolis “<em>puruûa</em>” (unsur kejiwaan/spiritual alam semesta). Penunggalan konsepsi <em>prakåti</em> dengan <em>puruûa</em> dalam struktur pura adalah merupakan simbolis dari pada “<em>Super natural power</em>“. Hal itulah yang menyebabkan orang orang dapat merasakan adanya getaran spiritual atau super natural of power (Tuhan Yang Maha Esa ) dalam sebuah pura.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = <em>penyengker</em> ) scbagai batas pekarangan yang disakralkan. Pada sudut-sudut itu dibuatlah “<em>padurakûa</em>” (penyangga sudut) yang berfungsi menyangga sudut-sudut pekarangan tempat suci (<em>dikpàlaka</em> ).</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Sebagian telah dijelaskan di atas, pada umumnya pura-pura di Bali terbagi atas tiga halaman, yaitu yang pertama disebut <em>jabaan</em> (<em>jaba pisan</em>) atau halaman depan/luar, dan pada umumnya pada halaman ini terdapat bangunan berupa “<em>bale kulkul</em>” (balai tempat kentongan digantung), “<em>bale wantilan</em>” (semacam auditorium pementasan kesenian, “<em>bale pawaregan</em>” (dapur) dan “<em>jineng</em>” (lumbung). Halaman kedua disebut <em>jaba tengah</em> (halaman tengah biasanya berisi bangunan “<em>bale agung</em>” (balai panjang) dan “<em>bale pagongan</em>” (balai tempat gamelan). Halaman yang ketiga disebut <em>jeroan</em> (halaman dalam), halaman ini termasuk halaman yang paling suci berisi bangunan untuk Tuhan Yang Maha Esa dan para dewa manifestasi-Nya. Di antara <em>jeroan</em><em>jaba tengah</em> biasanya dipisahkan oleh <em>candi kurung</em> atau <em>kori agung. </em></span>dan</p>
<p><span style="font-size:small;">Sebelum sampai ke halaman dalam (<em>jeroan</em>) melalui <em>kori agung,</em> terlebih dahulu harus memasuki <em>candi bentar</em>, yakni pintu masuk pertama dari halaman luar (<em>jabaan </em>atau <em>jaba pisan</em>) ke halaman tengah (<em>jaba tengah</em>). <em>Candi bentar</em> ini adalah simbolis pecahnya gunung Kailaúa tempat bersemadhinya dewa Úiva. Di kiri dan kanan pintu masuk <em>candi bentar</em> ini biasanya terdapat arca <em>Dvàrapala</em> (patung penjaga pintu, dalam bahasa Bali disebut arca <em>pangapit lawang</em>), berbentuk raksasa yang berfungsi sebagai pengawal pura terdepan. Pintu masuk kehalaman dalam (<em>jeroan</em>) di samping disebut <em>kori agung,</em> juga dinamakan <em>gelung agung</em>. Kori Agung ini senantiasa tertutup dan baru dibuka bila ada upacara di pura. Umat <em>penyungsung</em>(pemilik pura) tidak menggunakan <em>kori agung</em> itu sebagai jalan keluar-masuk ke <em>jeroan,</em> tetapi biasanya menggunakan jalan kecil yang biasanya disebut “<em>bebetelan</em>“, terletak di sebelah kiri atau kanan <em>kori agung</em> itu.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pada bagian depan pintu masuk (<em>kori agung</em>) juga terdapat arca Dvàrapàla yang biasanya bermotif arca dewa-dewa (seperti Pañca Devatà). Di atas atau di ambang pintu masuk <em>kori agung</em> terdapat hiasan kepala raksasa, yang pada pura atau candi di India disebut Kìrttimukha, pada arnbang candi pintu masuk candi Jawa Tengah discbut Kàla, pada ambang candi di Jawa Timur disebut Banaspati dan di Bali discbut Bhoma. Cerita Bhoma atau Bhomàntaka (matinya Sang Bhoma ) dapat dijumpai dalam kakawin Bhomàntaka atau Bhomakawya. Bhoma adalah putra dewa Viûóu dengan ibunya dewi Påtivì yang berusaha mengalahkan sorga. Akhimya ia dibunuh oleh Viûóu sendiri. Kepalanya yang menyeringai ini dipahatkan <em>pada kori agung</em>. Mcnurut cerita Hindu, penempatan kepala raksasa Bhoma atau Kìrttimukha pada <em>kori agung</em></span> dimaksudkan supaya orang yang bermaksud jahat masuk kedalam pura, dihalangi oleh kekuatan raksasa itu. Orang-orang yang berhati suci masuk kedalam pura akan memperoleh rakhmat-Nya.</p>
<p><span style="font-size:small;"><strong>KeSimpulan </strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;">Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat ditarik simpulan bahwa pura adalah tempat suci, tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa, para devatà dan roh suci leluhur. <em>vaýúakarta</em>) yang diyakini telah mencapai alam kesucian (<em>svarga</em>). Di samping itu pengelompokkan pura juga dibedakan atas pura umum, pura teritorial, pura fungsional, dan pura kawitan (pura untuk memuja pendiri dinasti).</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi Pura Jagat dan Pura Kawitan, sedangkan berdasarkan karakternya dibedakan menjadi Pura Kahyangan Jagat, Pura Kahyangan Desa, Pura Swagina (pura fungsional) dan Pura Kawitan. Berdasarkan struktur pura dibedakan pura dengan 3 halaman (Jeroan, Jaba Tengah dan Jaba Sisi) yang melambangkan Tribhuwana (Svah, Bhuvah, dan Bhurloka), 2 halaman (Jeroan dan Jabaan) yang melambangkan alam sorga dan bumi dan yang satu halaman saja yang melambangkan alam sorga. Pura dengan 3 halaman pada umumnya untuk pura yang besar (Kahyangan Jagat) sedangn pura dengan 2 atau satu halaman pada umumnya utuk pura Kawitan atau pura keluarga.</span></p>
<p><span style="font-size:small;">Pura dibedakan berdasarkan pengelompokka peruntukannya, yaitu pura yaitu pura sebagai tempat untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa atau para devatà manifestasi-Nya dan pura untuk memuja roh suci para leluhur, utamanya roh suci para mahàrûi (àchàrya) dan pendiri dinasti </span></p>
<p><span style="font-size:small;">Source :<a href="http://blackinjpn.multiply.com/journal/item/49" target="_blank">blackinjpn.multiply.com</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/416/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/416/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=416&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pengelompokan-pura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/1435279-pura-ulan-danu-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1435279-pura-ulan-danu-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://images.blackinjpn.multiply.com/image/8/photos/9/300x300/11/balineseTemple.jpg?et=AWoRJdkAfvfrhuX5ZPllpg&#038;nmid=90713328" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pemilihan Dan Penetapan Pemangku</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pemilihan-dan-penetapan-pemangku/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pemilihan-dan-penetapan-pemangku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 13:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[banten]]></category>
		<category><![CDATA[hindhu]]></category>
		<category><![CDATA[nganteb]]></category>
		<category><![CDATA[pemangku]]></category>
		<category><![CDATA[sasana pemangku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[1. Ditetapkan berdasarkan keturunan dari Pemangku sebelumnya 2. Melalui pemilihan 3. Dengan cara lekesan (seperti “lotere”) 4. Dengan cara nyanjan atau metuwun   PENGGOLONGAN PEMANGKU MENURUT SWADARMANYA 1. Pemangku Pura-Pura : Sad Kahyangan, Kahyangan Tiga 2. Pemangku Pamongmong (pembantu dibidang protokoler) 3. Pemangku Jan Banggul (pembantu dibidang pelayanan warga ketika upacara di Pura) 4. Pemangku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=411&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-412" title="pemangku" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/pemangku.jpg?w=510" alt="pemangku"   /></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Ditetapkan berdasarkan keturunan dari Pemangku sebelumnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Melalui pemilihan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Dengan cara lekesan (seperti “lotere”)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">4. Dengan cara nyanjan atau metuwun</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">PENGGOLONGAN PEMANGKU MENURUT SWADARMANYA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Pemangku Pura-Pura : Sad Kahyangan, Kahyangan Tiga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Pemangku Pamongmong (pembantu dibidang protokoler)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Pemangku Jan Banggul (pembantu dibidang pelayanan warga ketika </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">upacara di Pura)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">4. Pemangku Cungkub (di Merajan Gede yang jumlah palinggihnya diatas 10 </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">buah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">5. Pemangku Nilarta (di Pura Kawitan) 6. Pemangku Pinandita (Pemangku pembantu Pandita yang berwenang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">ngeloka palasraya dalam batas-batas tertentu atas tuntunan dan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">panugrahan Pandita)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">7. Pemangku Bujangga (di Pura Paibon)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">8. Pemangku Balian (mengobati orang sakit)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">9. Pemangku Dalang (sebagai Dalang yang mampu Nyapu legger)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">10.Pemangku Lancuban (yang bisa kerawuhan/kodal untuk metuwun)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">11.Pemangku Tukang (yang paham ajaran Wisma Karma : undagi,</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">sangging,tukang wadah)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">12.Pemangku Kortenu (yang bertugas di Prajapati/Ulun Setra)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"><span id="more-411"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">WEWENANG PEMANGKU</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Membuat tirta panglukatan/pabersihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Nganteb banten piodalan di Pura/Merajan yang di-emongnya sampai batas </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">ayaban tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Nganteb banten pada upacara/yadnya tertentu dilingkungan keluarga </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">dengan tirta pamuput dari Pandita/Sulinggih Dwijati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">4. Melaksanakan semua upacara jenazah sampai mapendem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">5. Istilah yang digunakan untuk Pemangku adalah “nganteb” bukan “muput”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">6. Membantu pelaksanaan yadnya tertentu dari Pemangku suatu Pura dengan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">seijinnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">7. Menggunakan gentha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">8. Menggunakan mantram, dan mudra tertentu bila sudah mawinten dengan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">ayaban bebangkit serta sudah mendapat bimbingan dari Pandita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">TUGAS DAN KEWAJIBAN PEMANGKU</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Mengantarkan upacara yang diselenggarakan di Pura/Merajannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Menuntun warganya dalam pendalaman Dharma (Dharma sesana)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Menjaga kebersihan dan kesucian Pura/Merajan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">PENGHARGAAN TERHADAP PEMANGKU</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Bebas dari ayahan Desa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Menerima sesari/bagian sesari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Menerima hasil pelaba Pura (bila ada)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">DISIPLIN KEHIDUPAN PEMANGKU</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">1. Menjaga kebersihan (lahiriah) dan kesucian diri (batiniah) dengan cara </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">setiap pagi mapeningan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">2. Berpakaian sesuai dengan sesana kepemangkuan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">3. Mempunyai perlengkapan pemujaan : sebuah dulang diatasnya ada :</span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">gentha, tempat dupa, pasepan, sangku, sesirat dari daun lalang, caratan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">tempat air bersih, botol tetabuhan, canting, dan bunga. Sebuah kekasang, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">dan sebuah ganitri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">4. Aturan kecuntakaan bagi Pemangku :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">a. Tidak kena cuntaka karena orang lain</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">b. Terkena cuntaka bila ada anggauta keluarga yang serumah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">meninggal dunia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">c. Pemangku istri terkena cuntaka bila haid5. Bila kawin/menikah harus masepuh (mawinten ulang) dengan tingkat </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">ayaban yang sama seperti sebelumnya, bersama-sama istrinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">6. Pemangku yang dihukum karena tindak pidana (kriminil) diberhentikan </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">sebagai pemangku oleh warganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">7. Jenazah Pemangku tidak boleh dipendem.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">8. Tidak cemer : memikul, nyuun sesuatu yang tidak patut, nganggur di </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">warung, metajen/berjudi, mabuk-mabukan, melanggar Trikaya Parisuda, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">anayub cor, tidak minum/makan di rumah orang yang kena cuntaka, </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">mengusung mayat, di-“ungkulin” orang yang memikul mayat atau orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">yang nyuun tirta pangentas, memikul bajak, menarik sapi, menginjak tahi </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">sapi, membuang hajat di air, mewarih di abu/api/air, makan makanan yang </span><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">tidak patut, tidur sekamar dengan istri yang haid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">Source: INDIK KEPEMANGKUAN, TIM PENYUSUN BUKU-BUKU AGAMA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;font-family:Verdana;">HINDU PEMDA TK I BALI, 1991</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/411/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/411/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=411&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pemilihan-dan-penetapan-pemangku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/pemangku.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pemangku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pura Lempuyang Luhur</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-lempuyang-luhur/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-lempuyang-luhur/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 10:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Suci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=398&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-399" title="lempuyang_luhur" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/lempuyang_luhur.jpg?w=510" alt="lempuyang_luhur"   /></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Pura Lempuyang Luhur terletak di Bukit Gamongan, pada puncak puncak bukit Bisbis atau Gunung Kembar di desa Purahayu, kecamatan Abang, kabupaten Karangasem. Jaraknya dari kota AmlaPura lebih kurang 22 km, arah keutara melalui Tirtagangga menuju desa Ngis di kecamatan Abang kemudian membelok ketimur langsung ke desa Purahayu. Kendaraan bermotor maupun dengan sepeda hanya bisa sampai di desa Ngis, kemudian berjalan kaki menuju desa Purahayu dan selanjutnya berjalan diatas bukit menuju Pura yang berada di puncak bukit Bisbis.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang 3 jam itu cukup berat dan memayahkan, karena kadang-kadang menemui jalan yang sempit dan berjurang terjal, serta meanjak terus. Namun kepayahan itu dapat diimbali dengan indahnya panorama yang dapat dinikmati dari atas bukit selama pendakian itu. Lebih-lebih dari puncak Lempuyang pemandangan ke arah utara sangat indah, kelihatan pantai Amed dan desa Culik, ke Timur Gunung Seraya, ke Selatan kota AmlaPura, Candi Dasa, Padangbai dengan lautnya yang membiru dan ke Barat kelihatan desa-desa yang berada di bawah seperti Desa Ngis, Basang alas, Megatiga serta Gunung Agung yang nampak indah. Pura Lempuyang Luhur termasuk Pura Sad Kahyangan di Bali (Menurut Lontar Widisastra) yang juga merupakan kahyangan jagat yang termasuk salah satu dari &#8220;Pura-Pura&#8221; delapan penjuru angin di Pulau Bali.<span id="more-398"></span></span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Sejarah</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Sangat Sulit untuk mengungkapkan sejarah Pura Lempuyang Luhur yang terletak di Bukit Gamongan Karangasem itu secara jelas, oleh karena data-data yang kuat sukar di dapatkan. Kesulitan lain lagi ialah sampai kini belum dijumpai &#8220;Purana&#8221; tentang Pura itu yang diharapkan dapat memberikan keterangan secara jelas.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Sementara itu baru diperoleh data-data mengenai Pura Lempuyang Luhur yang sifatnya tidak langsung, ialah keterangan dalam prasasti Sading C type :Tinulad&#8221; dan keterangan yang terdapat dalam lontar Kutarakandha Dewa Purana Bangsul.</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">1. Prasasti Sading C</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Naskah turunan prasasti Sading C yang disimpan di Geria Mandhara Munggu, yang isinya menyebutkan sebagai berikut &#8221; Pada tahun 1072 Caka (1150) bulan ke-9 hari tanggal 12 bulan paroh terang, wuku julungpujut, ketika hari itu beliau Paduka Çri Maharaja Jayaçakti, merapatkan seluruh pemimpin perang. Karena beliau akan pergi ke bali karena disuruh oleh ayahnya yaitu Sang Hyang Guru yang bertujuan untuk membuat Pura (dharma) disana di Gunung Lempuyang, terutama sebagai penyelamat bumi bali, diikuti oleh pendeta Çiwa dan Budha serta mentri besar. Beliau juga disebut Maharaja Bima, yaitu Çri Bayu atau Çri Jaya atau Çri Gnijayaçakti.&#8221;</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">2. Prasasti Kutarakanda DewaPurana Bangsul</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Didalam Lontar Kutarakanda DewaPurana Bangsul lembar ke 3-5 koleksi Ida Pedande Gde Pemaron di Gria Mandhara Munggu Badung ada di singgung mengenai Lempuyang yang kutipannya kira-kira sebagai berikut &#8221; Demikianlah perkataan Sang Hyang Parameçwara kepada putra beliau para dewa sekalian, terutama sekali Sang Hyang Gnijayaçakti wahai anaknda, anda-anda para dewa sekalian, dengarkanlah perkataanku kepdada anda sekalian, hendaknya anda turun (datang) ke Pulau Bali menjaga pulau Bali, seraya anda menjadi dewa disana&#8221;<br />
Dari kedua sumber tersebut diatas ada dua hal yang penting dapat diambil yaitu : Gunung Lempuyang dan Sang Hyang Gnijaya. Di dalam bahsa Jawa kata Lempuyang berarti &#8220;Gamongan&#8221; gunung Lempuyang berarti gunung gamongan atau bukit gamongan sebagaimana disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan sampai sekarang masyarakat sekitar tempat itu menyebutkan bahwa Pura Lempuyang terletak di Bukit Gamongan disebelah timur kota Amlapura.</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Fungsinya</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Menurut Upadeca, bila dihubungkan dengan &#8220;Pura-Pura&#8221; Sad Kahyangan di Bali, maka Pura Lempuyang Luhur adalah termasuk salah satu diantaranya disamping lima Pura lainnya. Pura Lempuyang Luhur adalah kedudukan Dewa Içwara dan terletak di ufuk Timur penjuru mata angin di Bali. Hal ini dapat dihubungkan dengan Dewa Nawa Sanga beserta tempatnya dan senjatanya masing-masing. Jadi jelaslah bahwa Pura Lempuyang Luhur adalah sebagai penjaga/pemelihara arah sebelah timur dengan dewa Içwara sebagai manefestasi Sang Hyang Widhi Wasa.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Adapun dewa yang dipuja adalah Bethara Agnijaya (Hyang Gnijaya) sebagai manefestasinya Hyang Widhi, oleh karena Bhtara Agnijaya disejajarkan fungsi serta peranannya dengan Brahma, Wisnu, Indara dan Shambu maka dapatlah dimengerti bahwa Bhatara Agnijaya adalah identik dengan Içwara yaitu Dewa Asthadhipalaka yang berada di penjuru Timur. Nama Sang Hyang Agnijaya yaitu putra dari Sang Hyang Parameçwara (maksudnya sebagai manefestasi dari Hyang Widhi) juga ada disebutkan di dalam Lontar DewaPurana Bangsul. Pura-Pura yang berada di Bukit Gamongan yang ada hubungannya dengan Pura Lempuyang Luhur adalah Pura Desa Purahayu, Pura Telaga Mas dan Pura Pasar Agung.</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Pengemong</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Pengemong Pura Lempuyang Luhur adalah seluruh anggota&#8221;krama Desa&#8221; dari desa Purahayu, sedangkan penyungsungnya adalah segenap masyarakat Bali yang beragama Hindu dan Masyarakat Hindu di pulau Lombok termasuk umat hindu di seluruh Indonesia serta masyarakat Tionghoa di Bali.</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Piodalan</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Upacara Piodalan Pura Lempuyang Luhur jatuh pada hari kemis Umanis wuku dungulan yakni setiap enam bulan bali sekali (210 hari). Adapun urutan upacara piodalan pada Pura Lempuyang Luhur adalah sama dengan upacara pada Pura Sad Khayangan lainnya.</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Pemangku</span></strong></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Pura Lempuyang luhur mempunyai pemangku tersendiri dan bersifat turun temurun dari keluarga pemangku menurut garis keturunan patrilinial dannyatanya.</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Suatu yang menarik dan merupakan keistimewaan adalah didalam Pura Lempuyang luhur terdapat serumpun bambu jenis kecil. Setelah selesai menghaturkan bhakti batang pohon bambu itu dipotong oleh pemangku untuk mendapatkan tirta (disebut tirtha pingit) bagi setiap orang yang pedek tangkil ngaturang bhakti kesana. Tirta tersebut juga berfungsi sebagai Tritha Pengenteg-enteg yakni tirtha yang diapaki untuk Ngenteg Linggih baik di Pura-Pura, mrajan ataupun sanggah. Tetapi anehnya tidak selalu didalam batang bambu tersebut diketemukan air.<br />
</span></p>
<p align="justify"><span style="font-family:verdana,arial,helvetica,sans-serif;">Source : <a href="http://balebanjar.com/index.php/content/view/67/89/" target="_blank">e-banjar</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=398&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-lempuyang-luhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/lempuyang_luhur.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lempuyang_luhur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pura Besakih</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-besakih/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-besakih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 09:49:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Suci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=392</guid>
		<description><![CDATA[Pura Besakih, merupakan Pura yang terbesar di Bali. Terletak di kabupaten Karangasem. Dari Pura ini tampak keindahan panorama alam bali, karena Pura ini terletak di kaki Gunung Agung yang merupakan Gunung yang tertinggi di Bali. Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa di Pura ini, hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=392&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-393" title="250px-pura_besakih" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/250px-pura_besakih.jpg?w=510" alt="250px-pura_besakih"   /></p>
<div class="snap_preview">
<p>Pura Besakih, merupakan Pura yang terbesar di Bali. Terletak di kabupaten Karangasem. Dari Pura ini tampak keindahan panorama alam bali, karena Pura ini terletak di kaki Gunung Agung yang merupakan Gunung yang tertinggi di Bali.</p>
<p>Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa di Pura ini, hanya terdapat kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa yang bernama Resi Markandeya.<br />
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengiring-pengiringnya disebut Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya (sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.<span id="more-392"></span><br />
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah 8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara, dilaksanakan sebagai mana mestinya.</p>
<p>Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena tidak didahului dengan upacara yadnya (bebanten / sesaji). Kemudian perabasan hutan dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali lagi ke tempat pertapaannya semula (Konon ke gunung Raung di Jawa Timur. Selama beberapa waktu Sang Yogi Markandeya tinggal di gunung Raung.</p>
<p>Pada suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru, disertai oleh para resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan pekerjaan ini. Kali ini para pengiringnya berjumlah 4000 orang yang berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan ditanam di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama para yogi lainnya dan mempersembahkan upakara yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah, tegal dan perumahan.</p>
<p>Di tempat di mana dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi Markandeya menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu yaitu berupa logam emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi (permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen) selengkapnya diperciki tirta Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi Markandeya yang datang pada waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah dialami dahulu. Demikianlah sedikit kutipan dari lontar Markandeya Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang seperti disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian sampai hari ini bernama Besakih.</p>
<p>Mungkin berdasarkan pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa yang tercantum dalam ajaran-ajaran agama Hindu tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap kali umat Hindu akan membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung, kantor-kantor sampai kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di sawah ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan. Setelah itu barulah pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar mendapatkan keberhasilan secara spiritual keagamaan Hindu di samping usaha-usaha yang dikerjakan dengan tenaga-tenaga fisik serta kecakapan atau keahlian yang mereka miliki.</p>
<p>Selanjutnya memperhatikan isi lontar Markandeya Purana itu tadi dan dihubungkan pula dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari sampai saat ini tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengaturan desa adat dan subak di persawahan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Besakih adalah tempat pertama para leluhur kita yang pindah dari gunung Raung di Jawa Timur yang mula-mula membangun suatu desa dan lapangan pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-32" title="besakih_global" src="http://purahindu.files.wordpress.com/2008/12/besakih_global.gif?w=231&amp;h=350" alt="besakih_global" width="231" height="350" /></p>
<p>Daftar Pura yang terdapat dalam kompleks Pura Besakih adalah ;<br />
1. Pura Pesimpangan<br />
2. Pura Dalem Puri<br />
3. Pura Manik Mas<br />
4. Pura Bangun Sakti<br />
5. Pura Ulun Kulkul<br />
6. Pura Merajan Selonding<br />
7. Pura Goa<br />
8. Pura Banua<br />
9. Pura Merajan Kanginan<br />
10. Pura Hyang Haluh (Jenggala)<br />
11. Pura Basukihan<br />
12. Pura Penataran Agung<br />
13. Pura Batu Madeg<br />
14. Pura Batu Kiduling Kreteg<br />
15. Pura Gelap<br />
16. Pura Pengubengan<br />
17. Pura Batu Tirtha<br />
18. Pura Batu Peninjoan<br />
19. Komplek Pedarman</p>
<p>Source : <a href="http://www.babadbali.com" target="_blank">BabadBali</a></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/392/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/392/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=392&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura-besakih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/250px-pura_besakih.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-pura_besakih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://purahindu.files.wordpress.com/2008/12/besakih_global.gif?w=231&#038;h=350" medium="image">
			<media:title type="html">besakih_global</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pura</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jan 2009 09:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat Suci]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=387</guid>
		<description><![CDATA[Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu. Etimologi  Kata &#8220;Pura&#8221; sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=387&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-388" title="200px-besakih02" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/200px-besakih02.jpg?w=510" alt="200px-besakih02"   /><span style="color:#000000;"><strong>Pura</strong> adalah istilah untuk tempat ibadah agama </span><a class="mw-redirect" title="Hindu" href="http://pujaantara.wordpress.com/wiki/Hindu"><span style="color:#000000;">Hindu</span></a><span style="color:#000000;"> di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di </span><a title="Bali" href="http://pujaantara.wordpress.com/wiki/Bali"><span style="color:#000000;">Bali</span></a><span style="color:#000000;"> sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.</span></p>
<h4><span class="mw-headline"><span style="color:#000000;">Etimologi</span></span></h4>
<p> <span class="mw-headline"><span style="color:#000000;">Kata &#8220;Pura&#8221; sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa </span><a class="mw-redirect" title="Sansekerta" href="http://pujaantara.wordpress.com/wiki/Sansekerta"><span style="color:#000000;">Sansekerta</span></a><span style="color:#000000;"> (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau </span><a title="Bali" href="http://pujaantara.wordpress.com/wiki/Bali"><span style="color:#000000;">Bali</span></a><span style="color:#000000;">, istilah &#8220;Pura&#8221; menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah &#8220;Puri&#8221; menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan.</span></span></p>
<h3><span class="mw-headline"></span><span class="mw-headline"><span style="color:#000000;">Sad Kahyangan</span></span></h3>
<p><span class="mw-headline"></span><span class="mw-headline"><span style="color:#000000;"><em>Sad Kahyangan</em> atau <em>Sad Kahyangan Jagad</em>, adalah enam pura utama yang menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali. Masyarakat Bali pada umumnya menganggap pura-pura berikut sebagai Sad Kahyangan:</span></span></p>
<p><span class="mw-headline"></span> </p>
<ol>
<li><span style="color:#000000;">Pura Besakih di Kabupaten Karangasem. </span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem. </span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung. </span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pura Uluwatu di Kabupaten Badung. </span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan. </span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik) di Kabupaten Gianyar. </span></li>
</ol>
<p><span style="color:#000000;">Selain pura-pura Sad Kahyangan tersebut di atas, masih banyak pura-pura di lainnya di berbagai tempat di pulau Bali, sesuai salah satu julukannya <em>Pulau Seribu Pura</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pura Besakih adalah komplek pura utama di Pulau Bali, dan merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Salah-satu pura terkenal lainnya adalah Pura Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Di Tanah Lot terdapat dua buah pura yang terletak di atas tebing batu besar, yang merupakan tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.</span></p>
<p> Sumber : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pura" target="_blank">Wikipedia</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/387/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/387/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=387&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2009/01/17/pura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2009/01/200px-besakih02.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">200px-besakih02</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Ritual Tumpek Kandang</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/memaknai-ritual-tumpek-kandang/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/memaknai-ritual-tumpek-kandang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 12:19:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Upacara - Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[babi]]></category>
		<category><![CDATA[binatang]]></category>
		<category><![CDATA[hari suci]]></category>
		<category><![CDATA[tumpek kandang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Umat Hindu di Bali memperingati Rerahinan Tumpek Kandang. Rerahinan yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye itu sejatinya memiliki makna untuk mengembangkan kasih sayang kepada semua ciptaan Tuhan, khususnya satwa (hewan). Melalui ritual Tumpek Kandang, umat diharapkan mampu mengembangkan sektor peternakan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian. Lalu, bagaimana umat mestinya memaknai Tumpek Kandang? Dalam Lontar Sunarigama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=289&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/celeng.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-290" title="celeng" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/celeng.jpg?w=510" alt="celeng"   /></a>Umat Hindu di Bali memperingati Rerahinan Tumpek Kandang. Rerahinan yang jatuh setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye itu sejatinya memiliki makna untuk mengembangkan kasih sayang kepada semua ciptaan Tuhan, khususnya satwa (hewan). Melalui ritual Tumpek Kandang, umat diharapkan mampu mengembangkan sektor peternakan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian. Lalu, bagaimana umat mestinya memaknai Tumpek Kandang?</p>
<p>Dalam Lontar Sunarigama dinyatakan Saniscara Kliwon Uye pinaka prakertining sarwa sato. Artinya, hari itu hendaknya dijadikan tonggak untuk melestarikan semua jenis hewan.</p>
<p>Perayaan Tumpek Kandang bukanlah prosesi ritual untuk menyembah hewan. Tumpek Kandang merupakan perayaan keagamaan untuk memuja Siwa Pasupati, Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menciptakan satwa.<span id="more-289"></span></p>
<p>Pengurus Parisada Bali Gusti Ngurah Sudiana mengatakan pada saat Tumpek Kandang, hewan khususnya ternak dibuatkan otonan yang pada intinya umat memuja Sang Hyang Siwa Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai rajanya semua makhluk hidup. Dalam prosesi ritual itu umat memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar ternak peliharaannya diberkati kerahayuan. Tetapi, secara filsafati perayaan Tumpek Uye itu mengandung makna bahwa umat hendaknya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Dalam konteks ekonomi, prosesi ritual itu mengamanatkan sektor pertanian dalam arti luas (peternakan) bisa dikembangkan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat.</p>
<p>Dikatakannya, dalam Sarasamuscaya ada disebutkan Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana, yang artinya jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Itu artinya, umat mesti mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk. Khusus pada perayaan Tumpek Kandang, umat memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa Pasupati agar hewan peliharaannya diberkati kerahayuan. Sebab, hewan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Misalnya, sapi atau kerbau bagi para petani memiliki peran yang sangat besar dalam membantu aktivitas agrarisnya. Sapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain dipakai membajak sawah, sapi juga membantu petani untuk meningkatkan kesejahteraan. Harga jualnya cukup menggiurkan, sehingga bisa dijadikan modal oleh petani untuk meningkatkan pendidikan bagi putra-putrinya, dan membiayai keperluan hidup yang lain.</p>
<p>Demikian pula ternak yang lain seperti babi, kambing, ayam, itik. Bahkan, babi bagi masyarakat Hindu di Bali sering dijadikan semacam tabungan atau celengan. Ketika umat menyelenggarakan hajatan, babi tersebut dipotong atau jika kepepet uang, ternak yang sering disebut ubuhan tatakan banyu tersebut bisa dijual.</p>
<p>Sebagai hewan yang ditakdirkan sebagai ubuan tunu, ayam, itik, babi dan sebagainya sering dijadikan sumber protein untuk menunjang kehidupan manusia. Untuk kepentingan itu hewan ternak memang terus dikembangkan.</p>
<p>Tetapi, khusus hewan-hewan yang lain, terutama satwa langka, umat mesti melestarikannya seperti penyu hijau, burung jalak Bali, menjangan, kera dan sebagainya. Hewan-hewan langka tersebut mesti dijaga agar tidak sampai mengalami kepunahan.</p>
<p>Untuk menjaga kepunahan satwa langka, di Bali dikaitkan dengan mitologi. Hewan-hewan tertentu dikatakan sebagai duwe Ida Batara (milik Tuhan), seperti sapi putih duwe, bojog (kera) duwe, lelawah (kelelawar) duwe, lelipi (ular) duwe dan sebagainya. Lewat mitologi seperti itu sesungguhnya umat diajak untuk menajaga dan melestarikan satwa lewat konsep religi. Mitologi seperti itu sepertinya jauh lebih kuat daripada seruan atau ajakan untuk melestarikan satwa langka, ujar Gusti Ngurah Sudiana yang dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar ini.</p>
<p>Dikatakannya, dalam konsep Hindu tidak ada satu benda pun yang tanpa kekuatan Tuhan. Ada jiwatman di dalamnya. Oleh karena itu, konsep pengembangan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan Tuhan mesti terus dilakukan. Melalui perayaan Tumpek Kandang, umat hendaknya mengembangkan ternak dengan baik untuk kepentingan hidup dan menjaga dan melestarikan satwa langka agar tidak sampai punah.</p>
<p>Hal yang sama dikatakan mantan Sekjen Parisada Pusat Ida Bagus Gunadha. Melalui perayaan Tumpek Kandang umat Hindu dituntun untuk melestarikan satwa, dalam hal ini hewan peliharaan. Kata IB Gunada yang Rektor Universitas Hindu Indonesia (Unhi), dalam lontar Boma Kawuya jelas disebutkan bahwa hutan sebagai sumber kehidupan dapat lestari karena dijaga oleh hewan (singa). Sebaliknya, hewan bisa hidup dan berkembang karena hutannya juga lestari. Itu artinya, dalam konsep Tumpek Kandang, umat jika ingin memperoleh kesejahteraan dari hewan ternak, mereka mesti memilihara dan mengembangkannya dengan baik. Demikian pula jika ingin ekuilibrium atau keseimbangan kehidupan tetap ada, umat manusia mesti menjaga kelestarian alam, termasuk di dalamnya berbagai jenis satwa. Sebab, berbagai jenis binatang yang diciptakan Tuhan itu memiliki fungsi masing-masing. Sebut misalnya, binatang lemah seperti cacing. Binatang tersebut sangat besar perannya untuk menyuburkan tanah. Tanah subur otomatis akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup subur. Jadi, peran tumbuh-tumbuhan juga besar bagi kehidupan hewan dan manusia.</p>
<p>Sebagai hewan ternak, sapi dan kerbau sangat membantu manusia dalam kehidupan agraris &#8212; aktivitas bertani &#8212; di samping untuk meningkatkan kesejahteraan. Demikian pula hewan ternak seperti babi (celeng), kambing, ayam, bebek dan unggas yang lain, amat berguna bagi kesejahteraan manusia. Selain dijadikan sumber protein, hewan ternak memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ternak bisa dikembangkan untuk dijual. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.</p>
<p>Lanjut IB Gunadha, di Bali dikenal upakara Wana Kertih yaitu upakara yang bertujuan untuk memohon ke hadapan Tuhan agar hutan atau lingkungan alam tetap lestari. Maka, dalam upakara itu sering diikuti dengan pelepasan binatang ke tengah hutan.</p>
<p>Keberadaan hutan sangat penting bagi kehidupan. Ia merupakan sumber kesejahteraan umat manusia. Selain berfungsi sebagai peresap air hujan, ia menjadi sumber kehidupan bagi berbagai satwa. Hutan sering dianggap masih lestari, jika di dalamnya masih terdapat kera hitam atau sering disebut lutung. Jika hewan itu sampai punah, berarti keseimbangannya sudah terganggu.</p>
<p>Jadi, lewat perayaan Tumpek Kandang, umat diingatkan untuk menjaga kelestarian alam, terutama satwa. Lewat perayaan ritual itu umat sesungguhnya mengaturkan rasa suksma manah, karena telah diciptakan berbagai satwa demi terjadinya keseimbangan hidup. Utamanya, sangat membantu meningkatkan kesejahteraan umat manusia. Karena itu, saat Tumpek Kandang, hewan ternak diperlakukan seperti manusia ketika otonan. Hewan dimandikan, kemudian diupacarai, ujarnya. (lun)</p>
<p> </p>
<p> </p>
<td> </td>
<p> <span style="font-size:x-small;">Source :   Balipost<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/289/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/289/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=289&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/memaknai-ritual-tumpek-kandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/celeng.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">celeng</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Malam Penebusan Dosa&#8221; Dalam Siwaratrikalpa</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/malam-penebusan-dosa-dalam-siwaratrikalpa/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/malam-penebusan-dosa-dalam-siwaratrikalpa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 11:52:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Upacara - Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[ciwaratri]]></category>
		<category><![CDATA[malam renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[MALAM Siwa (Siwaratri) merupakan salah satu hari yang sangat penting bagi masyarakat umat Hindu yang diperingati secara khusus dengan cara melakukan brata Siwaratri yang meliputi jagra (melek) selama 36 jam, mona (tidak berkata-kata), dan upawasa (tidak makan dan minum) selama 24 jam terus-menerus, persis seperti yang (tidak sengaja) dilakukan oleh Lubdhaka dalam kakawin Siwaratrikalpa (karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=286&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/siwaratri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-287" title="siwaratri" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/siwaratri.jpg?w=510" alt="siwaratri"   /></a></p>
<p>MALAM Siwa (Siwaratri) merupakan salah satu hari yang sangat penting bagi masyarakat umat Hindu yang diperingati secara khusus dengan cara melakukan brata Siwaratri yang meliputi jagra (melek) selama 36 jam, mona (tidak berkata-kata), dan upawasa (tidak makan dan minum) selama 24 jam terus-menerus, persis seperti yang (tidak sengaja) dilakukan oleh Lubdhaka dalam kakawin Siwaratrikalpa (karya Mpo Tanakung). Dengan melakukan brata Siwaratri, sebagian umat Hindu meyakini bahwa dosa-dosa yang dilakukannya dapat dihapuskan. Namun sebagian lagi memberikan penafsiran berbeda, karena konon dosa (karma) tidak pernah dapat dihapus. <span id="more-286"></span></p>
<p>Lubdhaka: Si Pendosa?</p>
<p>Interpretasi yang beragam terhadap kakawin Siwaratrikalpa antara lain berpusat pada interpretasi terhadap tokoh dan ketokohan Lubdhaka. Adanya kontroversi atau perbedaan penafsiran tersebut antara lain disebabkan oleh opini-opini luar teks yang lebih dikedepankan daripada fakta tekstualnya. Dari opini-opini yang berkembang antara lain dikatakan bahwa Lubdhaka hanyalah sebuah simbol belaka. Lubdhaka yang berarti pemburu adalah simbol dari manusia pada umumnya, yang juga adalah pemburu. Sedangkan binatang-binatang yang diburu tidak lain adalah simbolisasi dari nafsu kebinatangan yang ada pada diri kita (manusia) yang memang harus diburu habis.</p>
<p>Pendaftaran seperti itu, memunculkan pembelaan yang apriori terhadap tokoh Lubdhaka. Dengan penafsiran simbolik seperti itu, Lubdhaka secara sedemikian rupa ditempatkan sebagai pemuja Siwa yang luhur. Bahwa kejahatan dan pembunuhan yang dilakukan sepanjang hidupnya, tidak dianggap sebagai perbuatan jahat atau dosa. Lubdhaka tidak dipandang sebagai seorang pembunuh dalam pengertian yang sebenarnya. Meskipun secara tekstual jelas-jelas dikatakan bahwa Lubdhaka adalah seorang pemburu yang senantiasa memburu dan membunuh binatang buruannya sambaddhanya hanang nisada winuwus khayating haran Lubdhaka// &#8230; Sangkan-sangkan alit taman hanang ulah dharmariya mwang yasa/ anghing lot maburu gawaynya mamating mong wek gaja mwang warak/ salwir ning mrga kapwa sirna rinarahnyan tan bisapet hurip&#8230; (Wirama 2.1&#8211;2.2: Sardulawikridita).</p>
<p>Dalam bait-bait selanjutnya dijelaskan bahwa tokoh Lubdhaka &#8230;satata turung mapunya yasa dharma len brata katinya kasmala dahat.. (sesungguhnya ia tidak pernah berbuat punya, yasa dan dharma serta brata, perbuatannya sangat cemar (Wirama 5.6: Aswalalita). Selama hidupnya dia tidak pernah berbuat dharma, dan karena perbuatannya itulah dia menderita sakit yang parah. Karena perbuatannya yang tak pernah berlandaskan dharma, sudah dipastikan arwahnya akan dikirim ke alam neraka: yataya yan kambila ring Yamalaya (Wirama 11.2: Sucyandewi). Ketika bertanya pada Siwa, para Gana dengan jelas mengatakan bahwa Lubdhaka adalah orang durhaka (Wirama 11.8: Sucyandewi). Dengan jelas dikatakan bahwa selama hidupnya Lubdhaka selalu membunuh binatang, dan tak pernah melakukan tapa brata (Wirama 11.9: Sucyandewi). Dengan alasan itu pula Kingkarabala mengikat roh Lubdhaka di neraka (Wirama 11.10: Sucyandewi).</p>
<p>Batara Yama, penguasa alam neraka, memerintahkan para Kingkara untuk mengambil roh Lubdhaka karena perbuatan Lubdhaka yang selalu jahat (Wirama 14.4: Aswalalita).</p>
<p>Dalam pandangan Batara Yama (Batara Dharma), Lubdhaka adalah orang yang jahat. Ungkapan Lubdhaka sebagai (roh) orang yang jahat ditemukan di dalam banyak bait kakawin Siwaratrikalpa: palanya dusta satata (Wirama 14.4: Aswlalita); pamigraha rikang nisada kalusa (Wirama 14.5: Aswalalita); hina dina cemar dan jahat: ai kong Lubdhaka kasmaladhama dahat lampun gawemwahala (Wirama 15.5: Sardulawikridita); rigatimu dusta kewala (Wirama 18.1: Kusuma wilasita).</p>
<p>Menurut catatan para Kingkara, Lubdhaka tidak pernah melakukan perbuatan baik/apan ngwang wihikan gatinya satata norang gawenyahajong/&#8230;// (Wirama 19.4: Sardulawikridita). Karena perbuatan jahatnya itulah yang membuatnya harus menerima hukuman siksa di Yamapada (neraka): /bykatekin phala ning gawenya mahalaweh duhka tan pantara// (/inilah pahala dari perbuatannya yang jahat dan siksalah ia selalu.//).</p>
<p>Yang menarik adalah, Lubdhaka sendiri tidak paham betul akan perbuatan jahatnya, sebagaimana dikatakannya: we ning rakwa kaduskrtangku ling irangumanuman i sarira ni nghulun// (Wirama 16.1 Ragakusuma).</p>
<p>Ungkapan tentang Lubdhaka sebagai orang yang jahat dinyatakan dengan sangat jelas di dalam teks kakawin Siwaratrikalpa. Memang tidak ditemukan adanya penggunaan kata dosa (sin), selain kata dusta, duskrta (kaduskrtang), ahala, kalusa, ghataka. Namun apakah perbuatan jahat tidak dapat dikatakan suatu dosa?</p>
<p>Anugerah Siwa</p>
<p>Terkait dengan persoalan di atas, hampir semua peristiwa penting yang dialami oleh Lubdhaka pada saat panglong kaping patwelas terjadi secara kebetulan. Barangkali ini merupakan salah satu ciri karya yang bersifat didaktik.</p>
<p>Kebetulan pertama terjadi berkenaan dengan hari keberangkatan Lubdhaka melakukan perburuan. Kebetulan kedua adalah, ketika melakukan perburuan, Lubdhaka sama sekali tidak menemukan binatang buruannya, padahal dia berburu di hutan yang dikenalinya sebagai tempat berkumpulnya binatang buruan. Perburuan kali ini tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kebetulan ketiga, ketika terpaksa harus bermalam di hutan, tanpa sengaja ia naik ke atas pohon bilwa. Untuk menghilangkan rasa kantuknya serta terdorong oleh rasa ketakutan, ia memetik daun bilwa tersebut serta dijatuhkannya ke atas danau. Lagi-lagi, secara kebetulan daun-daun yang dipetiknya itu jatuh di atas sebuah Lingga (Siwalingga) yang tidak dibuat oleh manusia (nora ginawe) yang kebetulan ada di tengah danau tersebut. Konon, jumlah daun maja yang dipetiknya hingga fajar berjumlah 108 lembar, suatu jumlah yang keramat (lagi-lagi sebuah kebetulan).</p>
<p>Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa Lubdhaka secara kebetulan melaksanakan brata Siwaratri. Meskipun brata Siwaratri itu dilakukannya dengan tidak sengaja, atau secara kebetulan, mengapa semua peristiwa penting yang menjadi alasan Siwa memberi anugerah pada Lubdhaka terjadi secara kebetulan? Dapatkah atau pantaskah sesuatu yang dilakukan secara kebetulan saja menerima pahala yang demikian besar, berupa pengampunan dosa?</p>
<p>Apa pun, semua itu tidak mengurangi keinginan Siwa untuk memberikan anugerah kepada Lubdhaka, meskipun dalam sepanjang hidupnya Lubdhaka dipenuhi oleh perbuatan jahat, membunuh binatang tanpa dosa, dan tidak pernah melaksanakan brata. Rupanya malam Siwa sungguh-sungguh merupakan malam yang istimewa, dan tidak ada seorang pun yang memperoleh keberuntungan, suatu anugerah yang demikian besar selain Lubdhaka.</p>
<p>Anugerah yang diberikan Siwa kepada Lubdhaka bukanlah tanpa alasan. Selain sebagai perwujudan penguasa alam semesta, yang memiliki kekuasaan yang besar, Siwa tentunya bisa membebaskan seseorang yang sangat jahat sekalipun. Tetapi alasan pembebasan yang diberikan kepada Lubdhaka memang sangat istimewa, yaitu berkenaan dengan suatu ketentuan yang ditetapkan oleh Siwa sendiri tentang brata Siwaratri. Karena begitu lamanya ajaran itu disampaikan, sehingga banyak yang lupa, termasuk Siwa sendiri. Namun secara kebetulan Lubdhaka-lah yang secara tidak sengaja melakukan brata Siwaratri yang sangat utama itu. Lagi pula hanya si Lubdhaka-lah yang sudah melaksanakan brata Siwaratri itu untuk pertama kalinya. Oleh sebab itu, apa pun bentuk kejahatan yang dilakukannya, sudah dilebur oleh pelaksanaan brata Siwaratri itu sendiri.</p>
<p>Sampai di sini kita tentu akan terkesima melihat kenyataan sebagaimana terurai pada kutipan di atas. Sikap Siwa sebagaimana tergambar dalam kutipan di atas bukannya tidak ada yang mempersoalkan. Batara Yama beserta para Kingkara memprotes kebijakan Siwa. Bahkan, mereka mengancam untuk mengundurkan diri sebagai pejabat di Nerakaloka (Yamapada). Pertanyaan selanjutnya yang terus menggoda adalah: benarkah demikian adanya? Apakah ini persoalan estetik semata?</p>
<p>Sayangnya Lubdhaka tidak mungkin ditanyai dan tidak mungkin kembali lagi ke dunia ini. Kalaupun Lubdhaka akan mengatakan yang sebenarnya, seandainya dia menjelma ke dunia, kita pun mungkin tidak percaya dan meragukannya, karena Lubdhaka adalah orang yang sepanjang hidupnya membunuh binatang buruannya.</p>
<p>Apakah kita juga tidak percaya akan adanya kekuatan anugerah Tuhan? Maka kontroversi pun tak bisa dihindari.</p>
<p>Oleh IDG Windhu Sancaya</p>
<p>Penulis, dosen Fakultas Sastra Universitas</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=286&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/malam-penebusan-dosa-dalam-siwaratrikalpa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/siwaratri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">siwaratri</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Caru Adalah Memaknai Ruang dan Waktu</title>
		<link>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/caru-adalah-memaknai-ruang-dan-waktu/</link>
		<comments>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/caru-adalah-memaknai-ruang-dan-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 11:41:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mangkoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adat Dan Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Caru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pujaantara.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Setiap upacara agama yang berdasarkan Veda selalu ada lima unsur yang memvisualkan nilai-nilai suci upacara agama Hindu. Lima unsur tersebut adalah Mantra, Tantra, Yantra, Yadnya dan Yoga. Yantra itu berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya alat atau sarana dalam bentuk simbol. Yantra dalam upacara agama Hindu di Bali disebut banten atau upakara. Banten inilah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=280&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-281" title="cari" src="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/cari.jpg?w=510" alt="cari"   />Setiap upacara agama yang berdasarkan Veda selalu ada lima unsur yang memvisualkan nilai-nilai suci upacara agama Hindu. Lima unsur tersebut adalah Mantra, Tantra, Yantra, Yadnya dan Yoga. Yantra itu berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya alat atau sarana dalam bentuk simbol.</p>
<p>Yantra dalam upacara agama Hindu di Bali disebut banten atau upakara. Banten inilah yang menggunakan sarana tumbuh-tumbuhan dan hewan di samping unsur unsur panca maha bhuta lainya.</p>
<p>Dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan, sebagai berikut, &#8221; &#8230;.. Sehananing bebanten pinaka raganta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Andha Bhuwana.&#8221; Artinya, semua bebanten adalah lambang dirimu sendiri, lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang isi alam semesta. Berdasarkan uraian Lontar Yadnya Prakerti ini banten memiliki tiga makna. Banten bermakna sebagai simbol manusia, baik lahir maupun batin, bermakna untuk melambangkan berbagai wujud kemahakuasaan Tuhan dan banten juga melambangkan keberadaan isi alam semesta ini berupa planet-planet isi ruang angkasa.<span id="more-280"></span></p>
<p><strong>Caru Artinya Cantik</strong></p>
<p>Dalam kitab Samhita Swara disebutkan, arti kata caru adalah cantik atau harmonis. Mengapa upacara Butha Yadnya itu disebut caru. Hal itu disebabkan salah satu tujuan Butha Yadnya adalah untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam lingkunganya. Dalam kitab Sarasamuscaya 135 disebutkan, bahwa untuk menjamin terwujudnya tujuan hidup mendapatkan Dharma, Artha, Kama dan Moksha, terlebih dahulu harus melakukan Butha Hita. Butha Hita artinya menyejahtrakan alam lingkungan.</p>
<p>Untuk melakukan Butha Hita, itu dengan cara melakukan Butha Yadnya. Hakekat Butha Yadnya itu adalah menjaga keharmonisan alam agar alam itu tetap sejahtra. Alam yang sejahtera itu artinya alam yang cantik.</p>
<p>ButhaYadnya pada hakekatnya merawat lima unsur alam yang disebut panca maha butha (tanah, air, api, udara dan ether). Kalau kelima unsur alam itu berfungsi secara alami, maka dari kelima unsur itulah lahir tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan itulah sebagai bahan dasar makanan hewan dan manusia. Kalau keharmonisan kelima unsur alam itu terganggu maka fungsinya pun juga akan terganggu. Dalam Bhagawadgita III.14 disebutkan tentang proses berkembangnya makhluk hidup dari makanan. Dari hujan datangnya makanan. Hujan itu datang dari Yadnya. yadnya itu adalah Karma. Dalam Bhagawadgita ini memang disebutkan hanya hujan. Namun dalam proses menumbuhkan tumbuh-tumbuhan tidaklah hanya hujan saja yang dapat melahirkan tumbuh-tumbuhan. Kelima unsur alam tersebut juga berfungsi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.</p>
<p>Tanah, api (matahari), udara dan ether juga berfungsi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Peredaran kelima unsur alam itu melahirkan iklim serta siang dan malam. Karena itu upacara mecaru itu berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai spiritual kepada umat manusia agar memiliki wawasan kesemestaan alam.</p>
<p>Hubungan antara manusia dehgan alam haruslah berdasarkan konsep Cakra Yadnya sebagaimana ditegaskan dalam kitab Bhagawadgita III.16. ini artinya antara alam dan manusia harus menjaga kehidupan yang saling memelihara berdasarkan Yadnya. Keberadaan alam ini karena Yadnya dari Tuhan. Karena itu manusia berutang moral pada Tuhan dan alam secara langsung. Utang moral itulah yang disebut rina dalam kitab Manawa Dharmasastra. Dalam Yajurveda XXXX.l disebutkan bahwa Tuhan itu berstana pada alam yang bergerak atau tidak bergerak (Isavasyam Idam Jagat). Ini artinya alam itu adalah badan raga dari Tuhan. Karena itu upacara mecaru itu berarti suatu kewajiban merawat badan raga Tuhan dalam wujud merawat alam.</p>
<p>Di dalam kitab Manawa Dharmasastra V.40 disebutkan, tujuan digunakan tumbuhtumbuhan dan, hewan tertentu sebagai sarana upacara yadnya adalah sebagai upaya dan doa agar semua makhluk hidup tersebut meningkat kualitas dan kuantitasnya pada kelahiran yang akan datang.</p>
<p>Akan menjadi tidak cantik kalau penggunaan tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut hanya mentok di tingkat upacara semata. Tujuan hakiki dari upacara mecaru itu adalah pelestarian alam dengan eko sistemnya. Dari alam yang lestari itu manusia mendapatkan sumber kehidupan. Jadinya hakekat Butha yadnya itu adalah mecaru untuk membangun kecantikan alam lingkungan sebagai sumber kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan. Dan sudut pandang upacara; caru itu adalah salah satu jenis upacara Butha Yadnya.</p>
<p>Kalau Banten Butha Yadnya itu masih menggunakan nasi dengan lauknya bawang jahe belum menggunakan hewan itu disebut Segehan. Segehan itu pun banyak jenisnya. Ada segehan Nasi Sasah, ada Segehan Nasi Kepel, Segehan Nasi Wong-Wongan, ada Segehan Naga dan sebagainya. Kalau banten Butha Yadnya itu sudah menggunakan ayam, banten itulah yang disebut Caru. Ada Caru Eka Sata, Panca Sata, Panca Sanak, Panca Kelud. Balik Sumpah.</p>
<p>Menurut Lontar Dang Dang Bang Bungalan, kalau banten Butha Yadnya itu sudah menggunakan binatang kerbau tidak lagi ia disebut banten Caru. Banten itu sudah bernama Banten Tawur. Misalnya Tawur Agung sudah menggunakan binatang kerbau seekor. Umumnya dipergunakan untuk Tawur Kesanga setiap menyambut tahun baru Saka. Kalau ditambah lagi dengan tiga ekor kerbau disebut Mesapuh Agung, ditambah lagi dengan lima ekor kerbau. Demikian antara lain disebutkan dalam Lontar Dang Dang Bang Bungalan. Namun pada hakekatnya semuanya itu tujuannya adalah mecaru mewujudkan keharmonisan sistem alam semesta.</p>
<p><strong>Dengan Caru Meugatasi Bhutakala</strong></p>
<p>Bhuta Kala umumnya dibayangkan sebagai suatu makhluk ajaib yang berwajah serem menakutkan. Mulutnya lebar, bertaring panjang, mata merah mendelik, rambut tergerai tanpa aturan, perut gendut dengan sikap garang. Keadaan itu sering diwujudkan dengan ogoh-ogoh menjelang Nyepi. Penggambaran Bhuta Kala itu sangatlah wajar sebagai imajinasi para seniman dan rohaniawan. Karena kalau manusia. tidak harmonis dengan Bhuta Kala perasaan ngeri seperti melihat Bhuta Kala yang digambarkan di atas. Dalam bahasa sehari-hari di kalangan umat Hindu terutama di Bali ada istilah mecaru untuk nyomia Bhuta Kala. Upacara nyomia Bhuta Kala artinya mengubah sifat ganas Bhuta Kala menjadi bersifat lembut membantu manusia untuk mengembangkan perbuatan baik.</p>
<p>Jadi hakekat upacara mecaru itu adalah memotivasi spiritual agar selalu berbuat mengubah sifat ganas menjadi lembut tentang keberadaan Bhuta Kala itu. Dengan demikian terjadilah suatu hubungan yang harrnonis antara manusia dengan Bhuta Kala, Keharmonisan itulah tujuan dari upacara mecaru itu.</p>
<p>Bhuta Kala yang digambarkan itu tidak lain dari pada sifat-sifat alam kita ini. Manusia hidup bersama alam bahkan jasmani manusia juga disebut alam kecil atau Bhuwana Alit. Sifat alam kadang-kadang sebagai sahabat manusia kadang-kadang sebagai musuh manusia. Api dan air bisa menjadi sahabat dan membantu kehidupan manusia. Bisa juga menjadi musuh manusia seperti menimbulkan kebakaran, banjir dan lainnya. Agar alam itu selalu dapat bersahabat dengan manusia, yang harus aktif membangun persahabatan itu adalah manusia itu sendiri. Persahabatan dengan alam itu dapat dilakukan dengan cara sekala atau nyata dan dengan cara niskala atau dengan cara kerokhanian. Upacara mecaru adalah membangun persahabatan dengan alam dengan cara niskala. Cara niskala ini harus seimbang dengan cara sekala. Dengan demikian Bhuta Kala itu akan selalu menjadi sahabat membantu kehidupan manusia.</p>
<p>Dari sudut arti kata, Bhuta Kala berasal dari kata Bhuta yang artinya unsur-unsur alam kita ini. Bhuta dibangun oleh lima elemen yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu unsur tanah, air, api, udara dan ether. Lima unsur itulah yang membangun alam ini seperti planet-planet yang bertebaran di kolong langit ini. Planet-planet yang paling dekat dengan kita adalah bumi, bulan dan matahari. Perputaran planet-planet itu menimbulkan waktu dan musim. Waktu dalam bahasa Sanskerta adalah Kala. Bhuta Kala arti sebenarnya adalah Ruang dan Waktu. Manusia hidup dalam suatu ruang dan waktu tertentu. Tidak ada manusia hidup tidak berada pada ruang dan waktu tertentu itu. Ruang dan wakru itu dapat menjadi sahabat manusia dapat pula menjadi musuh yang menyusahkan manusia. Dalam persahabatan ini manusialah yang semestinya aktif menjalin persahabatan dengan ruang dan waktu itu. Untuk itu manusia hendaknya memahami peredaran ruang dan waktu itu dan segala potensi yang dikandung dalam peredaran tersebut. Dengan caru itu berarti kita dapat memanfaatkan secara positif ruang dan waktu atau Bhuta Kala, sehingga Bhuta Kala tidak lagi mengerikan.</p>
<p><strong>Mengapa caru Menggunakan Binatang</strong></p>
<p>Banten Bhuta Yadnya yang disebut caru selalu menggunakan binatang kurban. Penggunaan binatang ini sangat menentukan nama dan tingkatan banten caru tersebut. Misalnya caru Eka Sata menggunakan ayam brumbun atau lima warna. Caru Panca Sata menggunakan lima ekor ayam.</p>
<p>Demikian seterusnya. Pemakaian binatang dan tumbuh-tumbuhan sebagai sarana upacara Yadnya telah disebutkan dalam Manawa Dharmasastra V.40. Tumbuh-tumbuhan dan binatang yang digunakan sebagai sarana upacara Yadnya itu akan meningkat kualitasnya dalam penjelmaan berikutnya. Manusia yang memberikan kesempatan kepada tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut juga akan mendapatkan pahala yang utama. Karena setiap perbuatan yang membuat orang lain termasuk sarwa prani meningkat kualitasnya adalah perbuatan yang sangat mulia. Perbuatan itu akan membawa orang melangkah semakin dekat dengan Tuhan. Karena itu penggunaan binatang sebagai sarana pokok upacara banten caru bertujuan untuk meningkatkan sifat-sifat kebinatangan atau keraksasaan menuju sifat-sifat kemanusiaan terus meningkat menuju kesifat-sifat kedewaan.</p>
<p>Drs. I Ketut Wiana, M.Ag.<br />
Penulis, ketua Sabha Walaka PHDI Pusat.</p>
<p> <span style="font-size:x-small;">Source :   Raditya 133<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pujaantara.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pujaantara.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pujaantara.wordpress.com&amp;blog=2058867&amp;post=280&amp;subd=pujaantara&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pujaantara.wordpress.com/2008/11/13/caru-adalah-memaknai-ruang-dan-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1070d25bfda1c62309475c13294a3914?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">mangkoe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pujaantara.files.wordpress.com/2008/11/cari.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
